Perempuan di Medan Perang: Nasionalisme vs Feminisme


Oleh: Denny Susilo

(Researcher of Social Cluster in Horus Term)

Latar Belakang

Nasionalisme adalah kata yang pantas disematkan jika berbicara mengenai seluk-beluk sejarah kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu bangsa Indonesia terlahir dengan adanya semangat nasionalisme yang tinggi bagi para pejuang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme Belanda dan Jepang (Alfaqi, 2015).

            Pada dasarnya setiap individu diharapkan memiliki jiwa nasionalisme guna menjaga keutuhan NKRI. Salah satunya hal ini bisa dilatih melalui pendidikan militer, misalnya pendidikan kepolisian. Polisi merupakan pekerjaan yang memiliki peminat yang tinggi. Dengan peminat yang tinggi tersebut, membuat seleksinya bisa dikatakan sangat sulit, baik bagi casis (calon siswa) laki-laki maupun perempuan. Disisi lain bagi casis laki-laki untuk melatih fisiknya guna menjadi bagian dari polisi merupakan yang hal biasa, tapi bagaimana dengan casis perempuan? Apakah mereka memiliki kekuatan fisik yang sama dengan laki-laki atau sebaliknya. Hal inilah yang membuat terjadinya pro dan kontra bagi perempuan apalagi ketika mereka sudah menikah yang juga memiliki kewajiban untuk mengurus suami dan anak, memasak, dan pekerjaan lainnya. Menurut (Tuwu, 2018), mengatakan konotasi bagi perempuan adalah sebagai manusia dengan pekerja domestik (homemaker) yang jika dinilai tidak memiliki konstribusi secara aktif di luar rumah yang mengakibatkan perannya tidak lebih sebagai individu yang aktivitasnya hanya di rumah, sehingga membuat mereka yang hingga kini eksistensinya selalu dikaitkan dengan beberapa kata, seperti sumur, dapur, dan kasur. Dari wacana tersebut, sebagian orang menilai bahwa wacana usang yang tidak dapat dibuktikan dengan alasan apapun/alasan yang nyata membuat kaum perempuan dengan pandangan mereka untuk mengambil alih bagian yang lebih penting di ranah produktif.

Jika dilihat di lingkungan sekitar, selain nasionalisme, feminisme juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peran perempuan dalam menjaga harkat dan martabatnya. Menururt (Zikriyyah, 2020) feminisme adalah advokasi hak perempuan dalam kesetaraan diberbagai bidang (sosial, politik, dan ekonomi). Maksudnya disini adalah memperjuangkan hal dan kesempatan dari berbagai ancaman seperti diskriminasi atau ketidakadilan, yang menjadi penghalang bagi kaum perempuan dalam hal pekerjaan, pendidikan, dan struktur sosial lainnya. Akan tetapi, antara nasionalisme dan feminisme inilah yang membuat kaum perempuan sulit dalam memutuskan pilihannya, baik untuk memilih salah satu atau keduanya, yang disetiap pilihan pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

            Seperti penjelasan sebelumnya, banyak kaum perempuan menjadi bagian dari kekuatan militer dengan tujuan supaya mereka tidak direndahkan dalam artian guna menyetarakan gender dengan kaum laki-laki. Akan tetapi, apakah ini mudah bagi mereka untuk menjalankan tugas kemiliterannya, yang disamping itu juga memiliki tugas dalam keluarga? Dari permasalahan tersebut, penulis terinspirasi untuk mengetahui keberadaan gender bagi kaum perempuan dalam jiwa nasionalisme yang juga tidak melepas jiwa feminisme yang ada pada diri mereka. Akan tetapi, opini ini difokuskan hanya pada jiwa nasionalisme yang dimiliki kaum perempuan, dengan tujuan seberapa besar peluang atau seberapa penting keberadaan mereka dalam melaksanakan tugas kemiliteran.

Pembahasan

            Adanya peminat yang tinggi dari perempuan untuk menjadi anggota kepolisian disetiap tahunnya, membuktikan bahwa instansi yang terkait membuka jalan selebar-lebarnya bagi perempuan untuk menjadi bagian dalam instansi tersebut. Akan tetapi, jika berbicara mengenai peran ganda, sebenarnya peran ganda yang dilakukan oleh perempuan selain mengurus keluarganya merupakan hal yang sah-sah saja, yang penting tidak melepas tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Dengan melakukannya hal tersebut, mereka bisa membantu ekonomi keluarga yang meskipun banyak sekali suami diluar sana yang kurang setuju dengan istri yang memiliki peran ganda, misalnya sebagai seorang polisi wanita (polwan). Padahal jika dipikir dengan seorang perempuan menjadi anggota polisi, sangat membantu pekerjaan polisi pria dalam menjalankan tugasnya, misalnya mereka bisa membantu dalam melakukan pemeriksaan kepada pelanggaran yang dilakukan oleh perempuan, menjunjung tinggi derajat perempuan, dan masih banyak contoh lainnya.

            Kontribusi polwan dalam menjalankan tugasnya juga perlu diapresiasi, bayangkan jika tidak ada polwan dalam instansi kepolisian, mungkin saja kantor menjadi tidak terurus dan berantakan, berkas-berkas penting tercecer di segala tempat, dan kejadian-kejadian lainnya yang membuat para anggota kepolisian tidak nyaman dengan tempat kerjanya. Karena pada dasarnya, laki-laki merupakan pribadi yang sangat sulit dalam mengatur segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sehingga dari sini diperlukan peran polwan untuk membantu pekerjaan mereka. Mengapa demikian? kembali lagi, di dunia ini di instansi apapun itu dan dimana pun itu sangat diperlukan peran seorang perempuan guna menciptakan keseimbangan dalam menjalankan tugas atau pekerjaan mereka. Seperti halnya yang dikatakan oleh Amelberga Vita Astuti, seorang dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta dalam artikelnya yang berjudul “Tantangan dan Keunikan Polisi Wanita”, beliau mengatakan: polisi wanita (polwan) merupakan salah satu profesi yang unik, karena di dalamnya terkandung tantangan dan dua makna berlawanan dari segi sosial dan budaya. Sebagai polwan mereka ditantang untuk menghadapi kekerasan yang bersifat maskulin, dengan harapan sisi feminim dalam bersikap dan tindak-tanduk yang mereka miliki mampu menjadi senjata bagi mereka dalam mengemban tugasnya baik di dalam maupun di luar pekerjaan mereka.

            Menurut penelitian (Santi, 1996) dalam artikel ini juga dijelaskan bahwa, sejatinya polisi masa kini diharapkan mempunyai tampilan androgini (memiliki ciri-ciri positif maskulin dan feminim) yang tidak hanya menjalankan tugas dalam hal mengatasi tindak kekerasan tapi juga bisa menjadi polisi lingkungan dan sahabat warga. Menurut Santi, polisi juga diharapkan mampu bersikap menjauhi kejantanan/maskulinitas, kejantanan disini dalam artian hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan tanpa meninggalkan sikap yang tegas dan kedisplinan dalam memberikan sikap yang lembut dengan penuh kasih sayang kepada masyarakat. Dengan memberikan sentuhan feminim yang konstruktif, polwan bisa menjadi salah satu yang dianggap untuk memenuhi kriteria di atas. Dalam situsasi ini, dengan sikap feminim yang dimiliki oleh polwan menjadi salah satu kelebihan bagi mereka dengan sentuhan kewanitaannya guna melaksanakan tugasnya dibandingkan dengan polisi pria. Dalam pekerjaannya yang lebih detail, rapi, rinci, dan teliti serta perannya yang multitasking seperti dalam pekerjaan yang domestik, banyak yang menilai bahwa polwan lebih jago untuk mengatasi banyak pekerjaan. Selain dengan sikapnya yang lebih detail dan rinci dibandingkan polisi pria, ternyata ada peran lain bagi polwan untuk mengatasi kejahatan. Misalnya mereka bisa menyamar sebagai pekerja seks komersial yang terjadi di sekitar dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan reserse. Dengan kecantikan mereka menjadi salah pendukung dalam kesuksesan untuk menyelesaikan kasus ini. Kecantikan dan tugas yang mereka lakukan inilah yang membuat para media untuk menyoroti mereka bahwa polwan tak kalah militan dibandingkan dengan rekan pria yang sama-sama menyelesaikan kejahatan yang sangat beresiko ini.

Kesimpulan

Melalui pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa, pandangan seseorang mengenai sisi buruk bagi perempuan karir (polwan) dapat dipertanggungjawabkan dengan argumen di atas, yang mana pada dasarnya tidak menjadi penghalang bagi perempuan  untuk menyerah dalam mewujudkan impiannya. Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari instansi apapun itu. Mereka memiliki peran untuk saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dibuktikan dalam instansi kepolisian yang membuat para anggotanya baik polisi pria maupun polisi wanita untuk mendapatkan kesetaraan gender tanpa membandingkan dan menjatuhkan dari salah satunya.

Daftar Pustaka

Alfaqi, M., Z. 2015. Memahami Indonesia Melalui Prespektif Nasionalisme, Politik Identitas, serta Solidaritas. Jurnal pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, 111.

Fisip UAJY. 2014. Website: https://fisip.uajy.ac.id/2014/09/30/tantangan-dan-keunikan-polisi-wanita/, Diakses pada tanggal 24 Desember 2020, pukul 17:25 WIB.

Tuwu, D. 2018. Peran Pekerja Perempuan dalam Memenuhi Ekonomi Keluarga: Dari Peran Domestik Menuju Sektor Publik. Al Izzah, 64.

Zikriyyah, F. 2020. Tinjauan Hukum Islam Tentang Paham Feminisme bagi Wanita Karir. 16.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »