Keterwakilan Perempuan Dalam Politik Afghanistan


Oleh: Inta Alifia Imansah
(Researcher of Politic Cluster in Horus Term)

Latar Belakang

Budaya politik merupakan karakteristik umum suatu negara yang dipengaruhi oleh nilai dan kepercayaan yang berkembang di negara tersebut. Untuk memahami budaya politik yang ada disuatu negara dapat dilihat melalui sikap dan peran warga negaranya dalam sistem politik. Menurut Bingham Powell Jr., Russell J. Dalton, dan Kaare W. Strom, tindakan dan pola pikir individu yang ada didalam suatu negara tidak bisa disamakan walaupun, mereka memiliki budaya politik yang sama, hal ini dikarenakan perkembangangan norma dan budaya yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (Bingham Powell, Russell J.Dalton, Kaare W.Strom, 2011).

Salah satu bentuk budaya poltik yang berkembang di masyarakat adalah budaya politik patriarki. Patriarki berasal dari kata patriarkat, yang berarti peran laki-laki diposisikan sebagai sentral. Sistem patriarki menyebabkan kesenjangan gender diberbagai lini kehidupan manusia. Sehingga, perempuan tidak memiliki peran besar atau bisa dikatakan tidak benar-benar memiliki hak pada wilayah-wilayah umum seperti politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain (ade irma sakina, dessy hasanah siti A, 2017).

Salah satu faktor yang mempengaruhi budaya politik patriarki berkembang di masyarakat adalah faktor kepercayaan dan norma. Islam adalah salah satu agama yang mengajarkan tugas menjadi seorang pemimpin lebih baik diemban oleh laki-laki. Oleh karena itu, tak heran jika beberapa negara dengan mayoritas penduduk menganut agama islam memiliki budaya politik patriarki yang terbesit dalam benak individunya. Salah satu negara yang terkesan memiliki budaya patriarki adalah Afghanistan, sekitar 99,8% penduduknya beragama islam dan sangat berpengaruh besar dalam kehidupan bernegara di Afghanistan (Marniati, 2017). Hal ini terlihat pula dalam padangan Perwakilan Taliban, Hakim Mujahed yang mengatakan “Kaum perempuan Taliban dibolehkan terlibat dalam pendidikan, bekerja, dalam kegiatan ekonomi dan politik, tetapi harus sesuai kaidah Islam.” (CNN, 2020).

Selain memiliki budaya patriarki yang terkesan dapat menghambat partisipasi politik perempuan Afghanistan, salah satu permasalahan lain yang muncul dan dapat menghambar partisipasi politik perempuan Afghanistan yaitu konflik. Afghanistan adalah salah satu negara rawan konflik dan cukup berbahaya bagi penduduknya, disaat negara lain tengah membahas kemajuan ekonomi, pembangunan, pendidikan, lingkungan, dll Afghanistan belum mampu untuk mengatasi sumber konflik di negaranya tersebut. Salah satu sumber konflik yang banyak terjadi di Afghanistan adalah penyerangan dari kelompok militant Taliban. Taliban adalah sekelompok orang dengan paham Sunni garis keras yang ingin merubah Afghanistan menjadi negara yang berlandaskan agama Islam. Taliban banyak melakukan penyerangan dimana-dimana sehingga, banyak korban jiwa baik dari tenaga militer, sampai masyarakat sipil bahkan anak-anak dan perempuan. Walaupun dalam tekanan Taliban yang banyak melakukan penyerangan, perempuan Afghanistan terlihat tetap memberikan partisipasi aktif dalam politik Afghanistan.

Keterlibatan partisipasi politik perempuan di Afghanistan menjadi menarik untuk dibahas karena pernah menjadi jumlah keterwakilan tertinggi di Asia bahkan mengalahkan Amerika (Afghanistan, 2020). Walaupun, sistem demokrasi Afghanistan belum stabil, terjadi banyak konflik yang menindas kaum perempuan, dan tidak didukung penuh oleh seluruh fraksi pemerintahan.  Penulis ingin membahas bagaimana keterwakilan perempuan di Afghanistan dari awal penerapan sistem demokrasi sampai tahun 2018 lalu.

Pembahasan

Dampak Konflik di Afghanistan Bagi Perempuan

             Taliban adalah sebuah gerakan militant yang didominasi oleh orang-orang Pasthun berpaham Sunni garis keras. Asal mula gerakan Taliban berasal dari sebuah pesantren yang didanai oleh Arab Saudi. Mayoritas pengikut Taliban berdiam di wilayah Afghanistan dan Pakistan, oleh karenanya mereka berjanji untuk membawa Afghanistan dan Pakistan menjadi negara yang aman dan damai berdasarkan syariat Islam jika mereka mendapatkan kekuasaan. Taliban dianggap sebagai sebuah gerakan yang sangat berbahaya karena banyak melakukan penyerangan, kerusakan fasilitas umum, serta banyak memakan korban jiwa dalam setiap aksinya. Salah satu serangan Taliban yang menjadi awal mula keseriusan pemerintah dalam menghadapi kelompok suni garis keras ini adalah serangan di World Trade Centre, New York pada 11 September tahun 2001 (BBC, 2009).

             Berbagai serangan yang dilakukan Taliban rupanya meberikan banyak dampak buruk bagi kondisi sosial, ekonomi, dan politik Afghanistan. Salah satu dampak yang paling terasa dan membuat miris adalah kondisi perempuan di Afghanistan yang banyak mendapatkan pelanggaran HAM. Thomson Reuters Foundation menyatakan bahwa Afghanistan adalah salah satu negara yang berbahaya bagi kaum perempuan (Khan, 2012). Perempuan di Afghanistan banyak mengalami penderitaan dan menjadi korban terbanyak dalam penyerangan Taliban di Afghanistan bahkan, Dewan Keamanan PBB mendesak Taliban untuk mengakhiri perlakuan kejamnya terhadap wanita (Laub, 2014). Perempuan di Afghanistanpun mengalami banyak keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan lain-lain (Grenfell, 2004). Selain kerbatasan yang dimiliki oleh Afghanistan sebagai dampak penyerangan Taliban, perempuan Afghanistan juga mengalami kekerasan seperti pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan perdagangan perempuan (UK, 2014). Berbagai keterbatasan dan kekerasan yang dialami oleh perempuan Afghanistan menyebabkan diskriminasi dan ketidak mampuan bagi perempuan Afghanistan untuk memperbai kehidupan mereka.

            Afghanistan memanglah sebuah negara yang rawan konflik mulai dari penyerangan Taliban hingga ISIS yang banyak memicu konflik di Afghanistan. Hidup berdampingan dengan konflik bukan perkara mudah, hal ini lah yang banyak dirasakan oleh perempuan di Afghanistan. Mendapat banyak diskriminasi, kekerasan, dan segala keterbatasan menjadikan perempuan Afghanistan tertindas dan tidak dapat memperoleh hak-hak mereka sebagaimana mestinya. Namun, pada kenyataannya seiring berjalan waktu perempuan Afghanistan mulai bangkit dan banyak berperan dalam bidang politik sebagai representasi perempuan dan ikut aktif menyuarakan kepentingan politik di Negara rawan konflik tersebut.

Keterwakilan Perempuan Afghanistan Dalam Pemerintahan

             Afghanistan adalah salah satu negara yang dapat dikatakan baru menggunakan sistem demokrasi sejak tahun 2000-an, oleh karena itu untuk melihat partisipasi masyarakat dalam politik dapat dilihat melalui keikut sertaanya dalam pemilihan umum. Afghanistan merupakan salah satu negara rawan konflik, dan banyak memakan korban perempuan, walau demikian, partisipasi politik perempuan dalam demokrasi terlihat sangat baik.

             Partisipasi perempuan dianggap sebagai sebuah tren baru demokrasi dan berkesempatan untuk menjadi pemangku kepentingan dalam pemerintahan. Dalam proses demokrasi 2014 di Afghanistan pemuda dan kaum perempuan memberikan partisipasi yang besar dalam pesta demokrasi (pemilu) Afghanistan, hal ini dirasa akan memberikan implikasi yang luar biasa bagi masa depan demorasi di Afghanistan Menurut saksi mata dan wartawan yang mengikuti proses pemilu, ada banyak bagian dari perempuan dan pemuda yang memberikan suara pada hari itu. Keduanya memiliki implikasi yang luar biasa bagi masa depan proses demokrasi di Afghanistan. (Chandran, 2014).

             Dilansir dari Gender Quotas Database data pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa jumlah keterwakilan perempuan di Afghanistan sudah mencapai angka 27% dari jatah kuota 25% yang diberikan pemerintah (IDEA, 2020). Afghanistan juga menjadi jumlah keterwakilan perempuan terbesar se Asia bahkan jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan sebagai Negara Eropa jumlah keterwakilan perempuan di Afghanistan masih terbilang unggul (Afghanistan, 2020).

             Lebih spesifiknya keterlibatan perempuan Afghanistan sebagai pemangku kebijakan dapat dilihat sejak tahun 2004 lalu. Kabinet perempuan di Afghanistan pada 2004-2006 terdiri dari Amina Afzali, sebagai Menteri Pemuda periode 2004-2006, Masooda Jalal, sebagai Menteri Urusan Perempuan periode, 2004-2006, Husn Bano Ghazanfar sebagai Menteri Urusan Perempuan priode 2006-2009, dan Sediqa Balkhi sebagai Menteri Social Affairs, Martyrs & Disabled, 2004-2006. Sedangkan pada 2009-2014 terdiri dari Husn Bano Ghazanfar, sebagai Menteri Urusan Perempuan 2009-2014, Soraya Dalil Menteri Kesehatan 2010-2014, dan Amina Afzali, Social Affairs, Martyrs & Disabled, 2009-2014 (Afghanistan, 2020).

             Perempuan di Afghanistan terlihat aktif dalam menyuarakan pendapatnya dan terlibat secara langsung dalam politik walaupun banyakan tekanan yang dialami akibat konflik di negaranya. Hal ini patut dijadikan contoh bagi negara-negara lain bahwa perempuan bisa terus berkembang dan berekspresi terlebih menjadi pemangku kebijakan dalam suatu negara walaupun dihadapi banyak tekanan.

Kesimpulan

             Serangan Taliban terhadap Afghanistan masih terus berlanjut, bahkan sampai 17 Juni 2020 lalu. Serangan Taliban menyebabkan 17 tentara Afghanistan tewas (VoaIndonesia, 2020). Sebenarnya, pada bulan September lalu, pemerintah Afghanistan sudah berusaha untuk melakukan rekonsiliasi politik di Qatar, kedua kubu ini berhasil menemukan jalan tengah untuk membebaskan tawanan masing-masing kepada negara lawan, namun tidak ada kejelasan kapan akan berdamai dan Taliban berhenti melakukan penyerangan terhadap Afghanistan (BBC Indonesia, 2020). Walau serangan Taliban masih terus berlanjut keterlibatan perempuan di Afghanistan masih terus berkembang dari waktu ke waktu data terbaru yang dilansir dari Gender Quotas Database pada 2018 menyatakan keterwakilan perempuan di Afghanistan mencapai 27%, jumlahnya sudah melebihi target dari kuota 25% (IDEA, 2020).

Daftar Pustaka:

Amnesty.org.uk Women in Afghanistan: The Back Store. Women in Afghanistan: The Back Store. 25 November 2014, 06:13.

[diakses 24 Desember 2020]

. Tersedia dari https://www.amnesty.org.uk/womens-rights-afghanistan-history

BBC News Indonesia. “Perang Afghanistan: Perundingan damai ‘bersejarah’ dengan Taliban dimulai, apa yang bisa diharapkan?”, 12 September 2020, [diakses 24 desember 2020]. Tersedia di https://www.voaindonesia.com/a/serangan-terbaru-taliban-tewaskan-17-tentara-afghanistan/5466235.html

BBC News Indonesia. “Siapakah Taliban?”, 16 November 2009, [diakses 24 desember 2020]. Tersedia dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200304070410113-480304/afghanistan-mimpi-perdamaian-dan-kecemasan-para-perempuan

CnnIndonesia.com. “Afghanistan, Mimpi Perdamaian, dan Kecemasan Para Perempuan. Afghanistan, Mimpi Perdamaian, dan Kecemasan Para Perempuan”, 4 Maret 2020, 10:28 [diakses 24 Desember 2020]. Tersedia dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200304070410-113-480304/afghanistan-mimpi-perdamaian-dan-kecemasan-para-perempuan

Council on Foreign Relation. “The Taliban in Afghanistan”, Juli 2014 [diakses 24 desember 2020]. Tersedia di https://www.files.ethz.ch/isn/177335/p10551.pdf

IDEA. “Gender Quotas Database in Afghanistan”, 30 Juni 2020, [diakses 24 desember 2020]. Tersedia di https://www.idea.int/data-tools/data/gender-quotas/country-view/44/35

Irma, Ade, dan Dessy Hasanah. 2014. “Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia.” Social Work 7(1): 71–80.

Jirga, Wolesi et al. 2004. “Women in Afghanistan’s Government.” : 2004–6.

Jr., G. Bingham J. Powell, Russell J. Dalton, dan Kaare Strom. 2011. Comparative Politics Today: A World View (10th Edition). http://www.amazon.com/Comparative-Politics-Today-World-Edition/dp/0205109136.

Khan, Ahmad, Steven A Zyck, dan Stefanie Nijssen. 2012. “Women and Gender in Afghanistan.”:5.

Kompas.com. “Jumlah Anggota DPR Perempuan Meningkat, Diimbangi dengan Kualitas?”, 3 September 2019, 16:04.

[diakses 24 desember 2020]

Tersedia dari https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/03/160400165/jumlah-anggota-dpr-perempuan-meningkat-diimbangi-dengan-kualitas-?page=all.

Studies, Conflict. 2014. “Afghanistan Elections 2014 Positive Vote , Future of Taliban & the Challenges Ahead.”

Voa Indonesia. “Serangan Terbaru Taliban Tewaskan 17 tentara Afghanistan“, 17 Juni 2020, [diakses 24 desember 2020]. Tersedia https://www.voaindonesia.com/a/serangan-terbaru-taliban-tewaskan-17-tentara-afghanistan/5466235.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »