Keterkaitan Korean Wave dengan Toxic Masculinity


Oleh: Muhammad Rafli Rizky Pradana

(Researcher of Culture Cluster in Horus Term)

Latar Belakang

Korean Wave adalah istilah yang diberikan untuk penyebaran budaya populer Korea melalui produk-produk hiburan seperti drama, musik, style (Putri et al., 2019). Budaya Korean Wave sebenarnya sudah lama masuk ke Indonesia, namun dengan terjadinya pandemi Covid 19 budaya ini semakin marak dikenal masyarakat lewat K-Drama yang ditonton dikala karantina mandiri, hal ini diketahui lewat survey hiburan dikala pandemi oleh CNN Indonesia di twitter yang dimenangkan oleh drama Korea dengan polling 64% (CNN Indonesia, 2020) . Ternyata tanpa disadari budaya ini menimbulkan masalah Gender terhadap pengikutnya terutama Gender laki-laki. Banyak oknum yang menghujat temannya atau orang lain yang berkelamin laki-laki karena menyukai budaya Korea, karena berdasarkan yang mereka tahu bahwa lelaki yang menyukai budaya Korea itu seperti perempuan yang sifatnya lemah gemulai, bertingkah imut dan memakai makeup. Mereka tidak tahu bahwa hal tersebut ternyata masuk ke dalam kekerasan verbal terhadap laki laki yang biasanya disebut Toxic Masculinity. Toxic Masculinity merupakan hasil dari mengajari anak laki-laki mereka bahwa mereka tidak dapat mengekspresikan emosi secara terbuka; bahwa mereka harus “tangguh sepanjang waktu”; bahwa apapun selain itu membuat mereka “feminim” atau lemah (The New York Times, 2019).

Gender yang berlaku dalam suatu masyarakat ditentukan oleh pandangan masyarakat tentang hubungan antara laki-laki dan kelaki-lakiannya dan antara perempuan dengan keperempuanannya. Pada umumnya jenis kelamin laki-laki berhubungan dengan Gender maskulin, sementara jenis kelamin perempuan berkaitan dengan Gender feminim. Akan tetapi, hubungan itu bukan merupakan korelasi absolut (Dwijowijoto, 2008). Hal ini membuat laki-laki maupun perempuan yang tidak sesuai konstruksi Gender masyarakat akan dihujat serta dijauhi. Terutama laki-laki yang menyukai budaya Korea ini. Citra dalam trend musik pop Korea saat ini adalah kualitas yang paling esensial dari seorang penghibur. Sementara talenta, musik, dan kreatifitas memiliki peran sekunder (Willoughby, 2006). Bagaimanapun Toxic Masculinity ini harus segera dihentikan karena akan berdampak buruk pada diri korban maupun orang lain. Menurut Ami (2020) Toxic Masculinity ini mengakibatkan laki laki sulit untuk mengekspresikan emosi karena mereka tertahan untuk tidak boleh sedih, empati, dan galau. Kita semua mungkin bertanya tanya apa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, Perbedaan apa saja yang terdapat dalam maskulin versi budaya Korea dan bagaimana solusinya terhadap banyaknya pelaku Toxic Masculinity ini?. Tujuan penelitian ini adalah diharapkannya setelah membaca tulisan ini pembaca akan lebih aware tentang masalah Toxic Masculinity dan lebih mengenal tentang budaya maskulinitas Korea.

Pembahasan

Penyebab Terjadinya Toxic Masculinity

Menurut pandangan penulis konstruksi maskulinitas tradisional yang sudah meluas ini akhirnya mempengaruhi bagaimana pemuda laki-laki berpikir tentang sebagaimana lelaki itu dan dengan hadirnya budaya maskulinitas Korea, mereka menganggap hal tersebut tidak sesuai dengan pedoman mereka tentang laki-laki yang mengakibatkan penolakan budaya tersebut, sehingga perbedaan sifat maskulin tradisional dengan Soft Masculinity yang dipopulerkan oleh budaya Korea menimbulkan pertentangan. Soft Masculinity ini membawa sifat baru yang tidak ada di maskulin tradisional, hal ini membawa penganut sifat maskulin tradisional melakukan hal yang tidak baik dan menjurus ke Toxic Masculinity. Menurut informasi yang penulis dapatkan dari salah satu sumber, Toxic Masculinity melanggengkan stereotip bahwa hanya ada satu cara yang dapat diterima untuk menjadi seorang laki-laki, yaitu menjadi tabah, kuat, dan mendominasi. Apa pun hal yang kurang atau tidak sesuai untuk menjadi “Alpha” adalah kekurangan dan “Real Men” harus berusaha untuk mencapai tingkat yang tinggi itu sebelum dia bisa mengklaim dirinya sukses (Teo, 2020).

Maskulin dalam Kacamata Budaya Korea

Korea menawarkan produk maskulinitas mereka sendiri yang dikenal dengan Soft Masculinity. Menurut pandangan penulis penampilan maskulin sekaligus lembut dan cantik terkesan berlebihan pada awal kemunculannya. Namun ternyata hal ini sudah bisa diterima oleh beberapa masyarakat. Bahkan, kita lihat sudah banyak artis dari barat yang menerapkan Soft Masculinity ini seperti Harry Styles. Penulis menemukan pengertian ahli tentang Soft Masculinity, konsep ini merupakan gagasan tentang hibrida atau maskulinitas serba guna, lunak namun jantan pada saat yang sama (Ainslie, 2017).

Menurut penulis industri K-Pop punya standar yang menarik untuk ketampanan para boyband nya. Seperti penampilan tubuh yang atletis, pakaian yang up to date dan unik, terkadang terkesan aneh. Namun tidak meninggalkan sisi cantik dan lembut pada mayoritas penyanyi laki-laki Korea. Menurut salah satu ahli, gambaran idola laki-laki saat ini mengarah kepada laki-laki yang maskulin dengan segala atribut kemaskulinannya namun tak meninggalkan sikap lembut, kharisma, dan wibawa mereka (Junior & Juwita, 2013).

Cara Mencegah Toxic Masculinity

Menurut penulis cara untuk menghentikan Toxic Masculinity ini bisa dimulai dengan hal kecil yaitu dengan campaign dengan platform media sosial yang menjadi primadona anak muda saat ini dan juga orang tua ataupun anggota keluarga dapat memberikan pengetahuan tentang Gender dan bahaya dari sikap Toxic Masculinity. Penulis menemukan cara-cara untuk mencegah Toxic Masculinity menurut ahli (Levy, 2018) ada 5 cara untuk menghentikan Toxic Masculinity yaitu pertama dengan menyebarkan fakta tentang Gender. Kedua adalah dengan membatasi penggunaan kata kata yang “berbahaya” di dalam rumah, hal seperti ini harus sudah dilakukan oleh para orang tua seperti menghindari berbicara “bertingkahlah seperti pria” atau “laki-laki tidak boleh menangis” karena kata-kata tersebut dapat mempengaruhi psikologis anak yang berimbas ketika mereka sudah tumbuh dan dewasa. Ketiga kita bisa berdiskusi tentang maskulinitas ini di kelas kita atau di organisasi. Keempat adalah tentang mengikuti organisasi organisasi yang bergerak dalam masalah Gender. Terakhir adalah Speak Up yaitu ikut andil dalam memengarangi Toxic Masculinity ini dengan melakukan pengajaran atau sharing yang memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk menyuarakan masalah-masalah Gender yang terjadi saat ini serta kita juga harus menjadi contoh yang baik dan selalu berpikiran positif agar bisa dicontoh oleh orang lain dan masyarakat sekitar.

Kesimpulan

Dengan hadirnya Korean Wave yang membawa sifat maskulinitas baru dari Korea, pertentangan antara maskulinitas tradisional dan Soft Masculinity tidak terhindarkan. Tetapi jangan menjadikan hal itu sebagai ajang untuk mencaci maki dan merendahkan laki-laki, karena laki-laki bebas memilih mereka ingin menjadi seperti apa dan tidak terpatok oleh maskulinitas tradisional. Penulis mengharapkan semua laki-laki bebas mengekspresikan diri mereka sebebas apapun selama itu tidak merugikan dirinya dan orang lain.

Daftar Pustaka

Ainslie, M. J. (2017). Korean soft masculinity vs. Malay hegemony: Malaysian masculinity and Hallyu fandom. Korea Observer, 3(48), 609–638.

Ami, E. (2020, August 31). IDN Times. Retrieved from IDN Times: https://www.idntimes.com/life/inspiration/eka-amira/bahaya-nyata-toxic-masculinity-c1c2/5

CNN Indonesia. (2020, Desember 4). CNN Indonesia. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200411000413-220-492504/drama-korea-hiburan-favorit-kala-pandemi-melanda

Dwijowijoto, R. N. (2008). Gender dan strategi pengarus-utamaannya di Indonesia (Cet.1). Pustaka Pelajar.Gosling.

Junior, S., & Juwita, R. (2013). Representasi Maskulinitas Boyband Dalam Video Klip ( Analisis Semiotika Tentang Representasi Maskulinitas Boyband Dalam Video Klip Bonamana Oleh Boyband Super Junior ). 2–3.

Levy, J. (2018, November 2). Dr. Axe. Retrieved from: https://draxe.com/health/toxic-masculinity/

Putri, I. P., Liany, F. D. P., & Nuraeni, R. (2019). K-Drama dan Penyebaran Korean Wave di Indonesia. ProTVF, 3(1), 68. https://doi.org/10.24198/ptvf.v3i1.20940

Willoughby, H. A. (2006). Image is Everything: The Marketing of Feminity in South Korean Popular Music. Korean Pop Music: Riding the Wave.

The New York Times. (2019, January 22). The New York Times. Retrieved from The New York Times: https://www.nytimes.com/2019/01/22/us/toxic-masculinity.html

Teo, R. (2020, November 1). The Pride. Retrieved from The Pride: https://pride.kindness.sg/toxic-masculinity-needs-to-stop-and-it-starts-with-us/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »