New Social Movement

Oleh: ACABASE (Accademic Base)

            Beberapa tahun terakhir kita sering kali membaca atau melihat di sosial media mengenai munculnya atau adanya gerakan-gerakan sosial yang menyerukan permasalahan-permasalahan manusia secara mendasar, seperti gerakan Black lives Matter yang terjadi di Amerika serikat pada tahun 2020 kemarin yang menuntut kesetaraan dan keadilan sosial orang-orang berkulit hitam, ada juga gerakan #metoo muncul di negara Korea Selatan pada tahun 2016 yang mengupayakan anti kekerasan seksual dan ditujukan kepada kaum perempuan dalam segala bidang dan aspek kehidupan seperti pekerjaan dan juga tempat publik, atau gerakan  sosial yang sudah sangat lama yaitu gerakan anti nuklir telah muncul sejak tahun 1960 hingga sekarang ini, apalagi dengan mudahnya akses informasi sekarang didukung dengan teknologi informasi menyebabkan gerakan-gerakan sosial baru dapat mudah sekali berkembang dan menyebar dalam lingkup internasional secara singkat.

            Fenomena-fenomena gerakan sosial tersebut tidaklah aneh bahkan terkesan normal ketika sekelompok orang memperjuangkan hak-hak atau menyampaikan aspirasinya terhadap suatu permasalahan yang sedang atau akan terjadi, jika kita melihat fenomena tersebut melalui perspektif Hubungan Internasional maka gerakan-gerakan tersebut termasuk dalam  Social Movement, dalam perkembanganya gerakan sosial terbagi menjadi dua yaitu gerakan sosial lama dan juga gerakan sosial baru, lantas apa perbedaan gerakan sosial lama dengan gerakan sosial baru yang hadir dan banyak berkembang seperti sekarang ini?

            Teori Gerakan Sosial Baru pertama kali muncul pada tahun 1960-an hingga 1970-an dan terus berkembang hingga saat ini,  berbeda dengan gerakan sosial lama yang hanya menekankan pada perbedaan ideologi kelas yang ada dan terjadi di masyarakat seperti dikotomi antara kelompok Borjouis dan Proletar, Gerakan sosial baru membawa nilai-nilai yang lebih universal dan plural dimiliki oleh setiap individu seperti hak asasi manusia, feminism, anti rasisme, kelestarian lingkungan dan juga gerakan-gerakan yang menolak  adanya senjata api dan juga nuklir.  Sedangkan gerakan sosial lama mulai ditinggalkan karena dirasa sudah tidak sesuai dengan perubahan nilai dan juga kebudayaan yang sudah tidak terkotakan antar kelas.

            Salah satu tokoh yang tulisanya sering kali digunakan sebagai dasar memahami gerakan sosial baru adalah Jean Cohen dalam bukunya yang berjudul Strategy or Identity: New Theoretical Paradigms and Contemporary Social Movements 1985, dalam bukunya disebutkan bahwa karakteristik umum gerakan sosial baru terdapat beberapa point utama yang harus diperhatikan yang pertama adalah bentuk aksi dari gerakan sosial baru yang bersifat perilaku kolektif non konvensional, maksud dari point ini adalah gerakan ini ditujukan untuk menghadapi situasi yang masih kabur atau adanya keruntuhan agen  kontrol sosial sehingga diperlukan pihak yang memperjuangkan kembali keadaan tersebut.

            Point kedua dalam gerakan sosial baru adalah tindakan framing, tindakan ini ditujukan untuk mempengaruhi cara pandang individu terhadap suatu fenomena untuk kemudian individu tersebut mendukung isu atau permasalahan yang diusung, tindakan framing tersebut menggunakan aspek-aspek seperti nilai, sikap, kepercayaan dan juga tujuan. Dalam suatu gerakan sosial tindakan framing ini digunakan untuk mengenalkan kondisi sosial yang bermasalah, kemudian ditawarkan solusi yang memungkinkan dan dapat didukung oleh banyak pihak menjadi sebuah tindakan kolektif, dua karakteristik utama itulah yang selalu ada dalam suatu gerakan sosial baru.

            Gerakan sosial baru yang lebih menekankan nilai-nilai universal ini lebih mudah diterima dan didukung oleh masyarakat secara global karena lebih mudah menyebar hingga skala akar rumput maupun kelompok kecil dengan memfokuskan pada isu-isu lokal yang ada, kemudian isu lokal tersebut dibawa ke ranah nasional bahkan internasional yang akan menambah dukungan gerakan sosial baru tersebut, karena hal ini jugalah gerakan sosial baru lebih bersifat transnasional yang mudah mempengaruhi atau menumbuhkan gerakan serupa di wilayah maupun negara lain.

            Sehingga secara singkat gerakan sosial baru berbeda dengan gerakan sosial lama dari aspek nilai yang diperjuangkan dan taktik pengorganisasian gerakan, Gerakan sosial baru dengan taktik memobilisasi opini publik untuk turut mendukung nilai-nilai universal yang diperjuangkan dengan mengajak semua kalangan tanpa terkecuali maupun dikotakan dan juga dengan area cakupan luas melintasi batas wilayah negara.

References

Cohen, J. (1985). berjudul Strategy or Identity: New Theoretical Paradigms and Contemporary Social Movements .

Pena, T. R. (2019). Social movements and international relations: a relational framework. Journal of International Relations and Development.

Pichardo, N. A. (1997). “New Sosial Movements: A Critial Review”. Annual Review of Sociology, 23.

Singh, R. (2010). Gerakan Sosial Baru. Yogyakarta: Ressist Book.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »