Kesehatan Mental ditengah Pandemi

            Salah satu masalah terbesar dalam kesehatan mental adalah stigma masyarakat. Banyak sekali orang yang menganggap buruk para penderita mental illness atau penyakit mental, padahal mental illness ini sama seperti penyakit fisik, sama berbahayanya bagi kesehatan seseorang bila tidak ditindak lanjuti dengan baik. Menurut data, generasi milenial menjadi generasi dengan jumlah penderita mental illness terbanyak. Russ Federman, seorang psikolog asal Amerika Serikat mengatakan bahwa fenomena generasi milenial mengalami mental illnes sebenarnya bukan berasal dari budaya masyarakat yang modern, tetapi berasal dari tren di masyarakat dan norma sosial yang berkembang akibat perkembangan ekonomi dan teknologi yang begitu pesat. (Federman, 2017)

Dalam perspektif holism dalam psikologi positif, kesehatan mental dapat mencakup kemampuan individu untuk menikmati dan menciptakan keseimbangan dalam hidup juga merupakan upaya untuk mencapai ketahanan psikologis. Sedangkan menurut badan kesehatan dunia, WHO, kesehatan mental merupakan “subjective well-being, perceived self-efficacy, autonomy, competence, intergenerational dependence, and self-actualization of one’s intellectual and emotional potential, among others”, (WHO) atau secara singkat adalah suatu keadaan dimana kita secara mandiri mampu merasakan serta menyalurkan emosi kita dengan baik. Lebih lanjut WHO menyatakan, bahwa kesehatan mental mencakup kemampuan manusia mengatasi tekanan kehidupan, pekerjaan dan peran meraka dalam masyarakat. Perbedaan budaya juga berpengaruh pada bagaimana seseorang mendefisinikan ‘kesehatan mental’.

            Ada beberapa hal mengenai mental ilness yang dikutip dari laman IFLScience, yang pertama adalah gangguan kecemasan, gangguan ini menjadi mental illness dengn jumlah yang paling banyak ditemukan didunia dengan beragam bentuk dan ukuran, seperti GAD (generalized anxiety disorder) yang merupakan gangguan kecemasan paling umum, SAD (social anxiety disorder) gangguan kecemasan sosial, PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stress pascatrauma yang dihadapi seseorang setelah sebuah kecelakaan, PD (panic disorder) atau gangguan panik, OCD (obsessive-compulsive disorder) atau gangguan obsesif-kompulsif, dan fobia. Lalu setelahnya disusul oleh Depresi, yang menurut data menjadi penyakit mental terbesar nomor dua didunia. (McCall, 2019) Sementara itu, dilansir dari penelitian oleh WHO, depresi menjadi salah satu penyebab bunuh diri pada orang-orang diseluruh dunia dengan rentang usia 15-29 tahun. Ada sekitar 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, yang mana menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian nomor dua terbesar di dunia. (WHO, 2020)

            Leader dari boyband BTS, RM, pernah menyampaikan pidato saat peluncuran ‘Generation Unlimited at Youth 2030’ pada acara ‘73rd session of the United Nation General Assembly’ di New York, Amerika Serikat, bahwa salah satu langkah awal dalam mencegah terjadinya mental illnes adalah dengan mencintai diri sendiri. Dikutip dari laman resmi UNICEF, isi pidato RM tidak hanya mengajak kawula muda untuk mencintai diri sendiri,tetapi juga menekankan pentingnya percaya pada diri sendiri dan tidak menyerah pada tekanan sosial. Hal ini menjadi sangat penting karena banyak sekali kasus mental illnes yang masih disepelekan oleh masyarakat kita. Apalagi pada faktanya, seseorang bisa terjangkit gangguan mental kronis sebelum dia genap berusia 14 tahun, menurut data diperkirakan ada 20 juta remaja yang sudah mengalami ‘mental health issue’.(McCall, 2019)

            Salah satu hal yang sering sekali orang salah kaprah adalah gejala awal munculnya gangguan kesehatan mental. Masih banyak orang yang menganggap bahwa gangguan kesehatan mental muncul dari karakter seseorang, padahal pada kenyataanya faktor yang mendorong seseorang mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya adalah faktor-faktor lain seperti faktor genetika, faktor lingkungan luar si penderita bahkan sampai hal yang mungkin kita anggap sepele. Gangguan kesehatan mental ini bisa menimbulkan masalah kesehatan fisik juga, menurut beberapa penelitian, seseorang yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental akan dengan mudah terpapar masalah kesehatan fisik juga, bahkan sampai kematian. Karena ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan pada mentalnya, sistem kekebalan tubuh bahkan sampai ke sistem pencernaanya akan terganggu, hal inilah yang akan menimbulkan beragam penyakit baru pada si penderita.

            Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang, kesehatan mental bisa membuat ancaman baru selain dari ancaman COVID-19. Banyak sekali media yang menyerukan masyarakat, selain untuk seruan untuk tetap diam dirumah dan menjaga jarak, yaitu untuk selalu merasa ‘positif’ secara mental. Jika seseorang terlalu banyak mengalami kecemasan akibat melihat berita bohong (hoax) atau bahkan terlalu sering melihat berita terkait pandemi yang semakin meluas dan ganas diberbagai platform, bisa menyebabkan penuruan antibodi atau imunitas tubuh. Hal ini menjadi fatal karena virus COVID-19 lebih berbahaya dampaknya jika menyerang kalangan dengan antibodi atau imun tubuh yang lemah.

            Laman berita asal Inggris, BBC, bahkan mengeluarkan sebuah artikel dan memberikan sejumlah cara untuk mencegah kesehatan mental kita agar tidak semakin memburuk. Yang pertama, cobalah untuk memeberi batasan pada berita yang kita baca atau tonton. Menonton berita atau membaca artikel terkait COVID-19 memang baik, apalagi untuk terus mengikuti perkembangannya diseluruh dunia. Namun itu menjadi fatal apabila kita terlalu banyak mengkonsumsinya, karena bisa menggiring kita mengalami ‘panic attacks’. Selanjutnya, upayakan untuk menghindari menggunakan sosial media atau semua hal yang bisa memberi trigger pada emosi kita, beberepa platform media sosial bisa menjadi sarang berita-berita yang berisi hoax atau teori konspirasi yang biasanya membuat seseorang panik, jadi sebaiknya kurangi atau bahkan hindari saja platform-platform tersebut dan hanya membaca berita dari laman terpercaya. (Brewer, 2020)

            Cuci tangan secara teratur pada saat-saat yang dibutuhkan, ini memang kebiasan baru yang sulit diimplementasikan, tapi cobalah. Lalu jangan lupa untuk tetap terhubung dengan keluarga, kerabat, teman-teman dan orang sekitar. Selain untuk mengisi waktu luang juga untuk menjaga komunikasi dengan mereka di masa pandemi ini. Dan yang terkahir hindari ‘kelelahan’, meskipun kita sekarang lebih sering berada dirumah atau bahkan belum keluar dari rumah sejak awal masa pandemi, tubuh kita bisa saja mengalami kelelahan. Apalagi tinggal dirumah untuk waktu yang lama bagi mereka yang mempunyai segudang aktivitas diluar rumah sebelumnya pasti akan teras sulit, ditambah dengan berbagai tekanan eksternal biasa membuat tubuh dan jiwa kelelahan. Maka dari itu, usahakan untuk tetap melakukan kegiatan sehari-hari secara teratur, tetap berolahraga atau berjemur pagi agar tetap fit, meskipun kita harus melakukan semuanya dari dalam rumah. (Brewer, 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »