Perbedaan Feminisme Barat dan Feminisme Timur

Penulis: Lucke Kharimah P. S.

Di artikel sebelumnya, author telah menjelaskan beberapa perbedaan yang sebenarnya ada dalam gerakan feminism sendiri, dimana hal tersebut kurang lebih merupakan salah satu faktor mengapa banyak orang memiliki kesalahpahaman akan feminism dan meng-generalisir semua aliran sebagai satu kesatuan ‘feminisme’. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut karena jika kita ingin mencari satu persamaan paling menonjol dari gerakan ini adalah: Wanita. Gerakan ini terinisiasikan, diinisiasikan, dan ada bagi kaum wanita.

Namun karena seperti yang telah author sebutkan di artikel sebelumnya, gerakan feminism memiliki varian yang begitu banyak karena di pengaruhi oleh pelbagai macam hal seperti budaya, etnis, ras, suku, agama, pendidikan, lingkungan, pekerjaan, dan lain lain dimana intinya banyak hal kompleks yang dapat mempengaruhi sutu gerakan muncul secara spesifik di suatu Negara atau di suatu wilayah.

Yang menjadi sorotan disini –sudah terlihat cukup jelas di bagian judul- adalah kenyataan bahwa perbedaan budaya sebenarnya memiliki pengaruh yang begitu besar sehingga satu gerakan yang mungkin terjadi secara serentak di suatu Negara tidak akan memiliki efek yang begitu besar di Negara lain, walaupun organisasi atau inisiator ataupun kedua Negara tersebut memiliki permasalahan yang sama. Hal ini bisa menjadi pembeda yang cukup besar bagi pengaruh feminism itu sendiri terhadap permasalahan dan cara penanganan yang sayangnya, dapat dibilang repetitive mengingat beberapa orang mencoba untuk menyamakan satu budaya dengan budaya lain. Disini kita akan membahas mengenai keberadaan feminism barat yang kurang lebih memiliki pengaruh yang cukup luas di antara kalangan feminist timur.

Hingga bagian ini, author harap para pembaca memahami apa arti dari pengkatergorian dari ‘Barat’ dan ‘Timur’ disini. Secara singkat, ‘Barat’ merepresentasikan Negara-negara maju dengan tingkat GDP yang cukup tinggi dan jika dilihat dari sisi geografi, terletak di bumi bagian Barat. Perlu diingat bahwa tidak semua Negara yang terletak di bagian Barat termasuk dalam kategori Negara maju. Contoh Negara yang dimaksud disini adalah Negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Negara-negara yang terletak di benua Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman merupakan gambaran dasar dari definisi ‘Barat’ yang ada disini. Sedangkan untuk ‘Timur’ mengacu kepada Negara dengan GDP rendah atau terletak di bumi bagian timur. Contohnya Negara-negara di daerah Timur Tengah seperti Suriah, Yaman, lalau Negara di wilayah benua Asia dan Negara-negara di benua Afrika, walapun dalam beberapa kasus, orang-orang Afrika mendapatkan sebutan mereka sendiri dan tidak termasuk dalam kategori blok ‘Timur’.

Disini, seperti yang telah tertulis di bagian judul, author akan menjelaskan secara singkat mengenai feminism yang ada di Barat. Seperti yang telah kita ketahui, atau akan ketahui bagi para pembaca yang belum menyadarinya, majoritas bahan literature yang kita gunakan berasal dari Barat. Tentu hal ini kepada konstruksi pikiran seseorang dan bagaimana ia dapat menciptakan interpretasi versi dirinya yang di dasari oleh literature barat tersebut. Author tidak mengatakan bahwa bahan bacaan yang diterbitkan oleh penulis barat memiliki efek yang buruk atau kurangnya penulis timur yang menerbitkan bahan literature, namun secara tidak langsung memang hal tersebutlah yang terjadi.

Tetapi cukup akan hal tersebut, dimana author akan membahasnya di lain artikel. Yang menjadi suatu gerakan feminisme tergolong dalam kategori Barat, seperti yang di tulis oleh Caroline Ramazanoglu dalam bukunya Feminism and The Contradictions of Oppression” dan jika para pembaca memiliki waktu unttuk membacanya maka terlihat jelas bahwa gerakan feminism Barat cenderung mengkedepankan mengenai ‘liberalisme’ atau kebebasan dari perempuan dalam memilih jalan kehidupan mereka sendiri tanpa terkekang dalam batasan-batasan yang diberikan oleh masyarakat, perusahan ataupun pemerintah bagi mereka. Carolyn Pedwell dalam artikelnya yang berjudul “Gender, Embodiment and Cultural Practice: Towards a Relational Feminist Approach ”  juga menekankan aspek dari gerakan Feminisme yang paling menonjol adalah fakta bahwa mereka melabeli diri mereka sendiri sebagai individu yang bebas, berpendidikan tinggi, dan memiliki hak penuh atas tubuh mereka sendiri.

Tentu para pembaca pada poin ini akan keheranan karena bukankah para penggiat feminism Timur juga kurang lebih memperjuangkan hal yang sama?. Nah, Feminisme Timur, atau yang bisa termasuk dalam kategori post-kolonialisme Feminisme merupakan gerakan feminism yang berfokus kepada kesetaraan yang dapat diberikan kepada kaum wanita tetapi melihat secara dalam mengenai perbedaan yang ada dalam budaya atau tempat dimana wanita/gerakan feminisme itu tinggal/berada. Hal ini dikarenakan dasar dari kemunculan sebutan Feminisme Timur atau Post-kolonialisme Feminisme adalah penentangan terhadap aspek Feminisme Barat yang cenderung meng-universal kan permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan sesuai dengan standar feminism Barat, tanpa melihat adanya faktor lain yang membedakan para wanita yang menjadi subjek perlindungan. Perlu diingat sekali lagi, semua gerakan sosial, tidak terkecuali gerakan feminism memiliki pelbagai macam faktor dimana budaya dan lingkungan menjadi faktor pembeda terbesar.

Feminisme Timur, seperti yang telah author jelaskan dibagian “Feminisme Barat”, berpusat pada maslah atau isu-isu ketidak adilan atau kesetaraan yang terjadi pada kaum wanita yang tinggal di Negara-negara Timur sepeti Afrika, Timur Tnegah, dan Asia. Namun tidak sedikit pula yang menyebutkan kategori dalam Feminisme Timur untuk permasalahan wanita muslim. Jika kita kembali kepada pemikiran Feminisme Barat yang melihat – dalam kasus ini mari kita pakai wanita muslim sebagai contoh- wanita muslim yang menutupi dirinya sebagai tindakan opresif terhadap wanita. Ketika sebaliknya, para perempuan yang dianggap ‘tertindas’ disini malah tidak merasakan dirinya sebagai subjek dari opresi tersebut, sehingga usaha yang diberikan oleh para penggiat Feminisme Barat ini terlihat tidak masuk akal dan tidak jarang pula tidak dapat diterima dengan baik oleh para kalangan wanita muslim.

Disinilah ketika Feminisme Timur atau Post-kolonialisme Feminisme muncul. Mereka mencoba untuk menggali lebih dalam apakah suatu kampanye akan ‘kebebasan’ dan ‘kesetaraan’ yang di gaungkan benar-benar dapat mengakomodasi semua kalangan perempuan dengan sama rata? Tentu tidak, karena kembali lagi, setiap karakteristik dari wanita itu sendiri sudah berbeda untuk setiap individu dengan latar belakang sama apalagi dengan latar belakang yang berbeda dan terbanding terbalik. Alasan inilah yang sebenarnya membuat feminism sebagai salah satu gerakan sosial yang kompleks karena tidak ada definisi yang pasti dan adanya backlash di antara sesame Feminist walaupun dengan satu tujuan besar yang sama.

REFRENSI:

Gender, Embodiment and Cultural Practice: Towards a Relational Feminist Approach ” Carolyn Pedwell

Feminism and The Contradictions of Oppression” Caroline Ramazanoglu

Islam, Patriarchy, and Feminism in Middle East” Margot Badran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »