Hubungan Diplomatik Indonesia Tiongkok dalam Hal Perdagangan Produk Mainan Anak

Oleh: Erti Kusuma Siahaan ( Directure 1 of Global Intelligent)

Saat ini kata Diplomasi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan politik dan ekonomi suatu negara. Diplomasi sendiri merupakan sebuah seni yang mengedepankan kepentingan suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain untuk mencapai sebuah kepentingan nasional dengan cara damai. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak pulau yang tersebar dari sabang sampai marauke, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keberagaman maupun hasil kekayaan alam. Atas potensi tersebut banyak negara yang tertarik dengan Indonesia untuk menjalin kerjasama salah satunya negara Tiongkok. Tiongkok merupakan negara yang memiliki jumlah populasi terbesar nomor satu di dunia sedangkan Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok terutama dalam bidang ekonomi saat ini terus meningkat.

Tiongkok telah dikenal sebagai salah satu negara super power masa depan dalam perekonomian dunia. Tiongkok memainkan berbagai peran sebagai konsumen, penyalur, pesaing, pembaharu innovator dan penyedia sumber daya manusia yang handal. Hal tersebut dibuktikan dengan kemajuan ekonomi dan anggaran militernya yang terus meningkat setiap tahunnya. Kemajuan tersebut ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi sebesar 9,5% pada tahun 2010 lebih tinggi dari tahun 2008 sebesar 7,9%. Beberapa fenomena yang mencolok dari kebangkitan industrialisasi di Tiongkok antara lain, Pertama, kepemimpinan yang kuat strong leadership dan sebuah negara dengan aliran politik komunis yang memegang kekuasaan mutlak. Kebijakan yang jelas dan pasti. Kedua, keseriusan dan keberhasilan memberantas korupsi. Ketiga, keyakinan Tiongkok untuk bisa mendirikan industri sendiri dan serius melakukannya, Hampir setiap berbagai produk barang ada di Tiongkok. Mulai dari perangkat elektronik kecil sampai pabrik mobil berbagai merek.

Agar dapat menjalin hubungan kerjasama antara kedua negara maka kedua negara harus melakukan perdagangan internasional. Hubungan perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian bagi setiap negara yang ada di dunia. Dengan adanya perdagangan internasional ini maka, perekonomian diberbagai negara akan saling tercipta dan terjalin antara satu negara dengan negara lainnya. Kerjasama ekonomi merupakan suatu isu yang paling banyak dibicarakan, dan umumnya kerjasama dilakukan berawal dari sisi ekonomi untuk kemudian berlanjut pada bidang-bidang lainnya.  Memperkuat ekonomi dalam negeri, dan memperluas lingkup prdagangan luar negeri, tampaknya sudah lama ditetapkan sebagai dasar bagi suatu negara untuk pembangunan nasionalnya. Indonesia dianggap beruntung karena selain berpeluang untuk menerobos pasar internasional, juga memiliki potensi pasar dalam negeri, dibandingkan negara-negara tetangganya seperti singapura yang sepenuhnya menggantungkan ekonominya pada pasar luar negeri.

Hubungan Diplomatik Indonesia-Tiongkok

Indonesia melakukan hubungan diplomatik dengan Tiongkok sejak tanggal 13 April 1950. Akan tetapi hubungan diplomatik bilateral tersebut sempat terhenti pada tahun 1967 setelah isu kudeta komunisme di Indonesia. Pada bulan Desember 1989, atau selang waktu dekade setelah adanya perbaikan hubungan bilateral diantara Indonesia dan Tiongkok, Indonesia dan Tiongkok sepakat untuk membahas berbagai hal mengenai normalisasi hubungan bilateral kedua negara. Upaya normalisasi hubungan bilateral kedua negara mendapatkan hasil yang baik ditandai dengan adanya

“Memorandum of Understanding Between the Government of the Republic Indonesia and the Government of the Poople’s Republic of China on the Resumption of Diplomatic Relations” pada 8 Agustus 1990.[1] Indonesia dan Tiongkok melakukan hubungan bilateral dalam bidang ekonomi guna menjalin kerjasama yang lebih erat. Akan tetapi kerjasama ekonomi yang berlangsung antar kedua negara tersebut didominasi oleh Tiongkok serta adanya kebangkitan ekonomi Tiongkok dalam dunia internasional sehingga Indonesia mempersepsikan Tiongkok sebagai ancaman di dalam kawasan.

Berbicara mengenai hubungan bilateral di bidang ekonomi, Indonesia-Tiongkok dalam hal perdagangan mainan asal Tiongkok yang mempunyai penggemar tersendiri bagi para konsumen, selain harganya murah, desain yang unik, kualitas sederhana (tidak tahan lama) dan warnanya bermacam-macam. Mainan yang bermerek made in China ini banyak ditemui di berbagai tempat mulai dari toko mainan, pasar-pasar tradisional, di pinggir-pinggir jalan, stasiun kereta api, sampai ke bandar udara. Mainan asal Tiongkok berbeda dengan mainan buatan Amerika Serikat, Jepang atau Hongkong yang punya merek dan standar kualitas sendiri. Rata-rata mainan Tiongkok banyak terbuat dari bahan plastik yang mudah rusak atau tidak tahan lama, berbeda dengan maianan asal Amerika, Jepang maupun Hongkong yang selalu menjamin kualitas dengan menggunakan bahan yang tahan lama seperti terbuat dari logam,dan besi.

Seiring perkembangan zaman, industri mainan anak tergantung pada tren yang berubah-ubah, sehingga banyak anak pada usia muda lebih cepat mengenal mainan berbasis teknologi, sehingga melupakan mainan tradisional. Mainan seperti video game, mainan yang menggunakan komputer, dan mainan elektronik lainnya.

Indonesia memiliki lebih dari 76 juta anak, populasi anak keempat terbesar di dunia. Tingginya populasi anak di Indonesia memiliki potensi konsumsi mainan dipasar domestik. Ketidakmampuan Indonesia dalam menciptakan produk mainan untuk kebutuhan dalam negeri, membuat Tiongkok berupaya menguasai pasar Indonesia dengan mengandalkan produk asal Tiongkok yang harganya relatif murah dan memiliki bermacam-macam model.[2] Dengan banyaknya populasi anak Indonesia maka permintaan barang mainan (impor) semakin meningkat, dengan kurangnya dukungan teknologi dalam memproduksi mainan di Indonesia maka Indonesia memilih untuk mengimpor mainan anak dari Tiongkok.

Tiongkok dan Indonesia kaya akan sumber daya. Namun, dalam hal teknologi dan biaya tenaga kerja Indonesia tertinggal. Misalnya dalam hal teknologi tekstil masih menggunakan barang teknologi yang lama atau tidak layak dipakai lagi. Sementara itu dari segi tenaga kerja di Indonesia pada saat ini mengalami tekanan kuat dari serikat pekerja untuk meningkatkan gaji. Sehingga banyak pabrik-pabrik yang tutup dan mulai memindahkan investasi dari Indonesia. Berbeda dengan Tiongkok yang memiliki keunggulan kompetitif dari segi tenaga kerja yang murah dan produktif yang merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok. sehingga investasi banyak masuk ke Tiongkok dengan terus memperbaharui teknologi tinggi dan menciptakan pekerja yang berkualitas dan produktif. Dengan demikian Indonesia tertinggal dalam pembaharuan teknologi, dan menjalin kerjasama perdagangan dengan Tiongkok yang memiliki teknologi yang baru, yang mana Indonesia dan Tiongkok dapat dikatakan saling membutuhkan. Indonesia yang kurang akan teknologi sehingga mengimpor barang dari Tiongkok, sedangkan Tiongkok  untuk dapat mengekspor produk yang ada, misalnya mainan anak.

Tiongkok adalah produsen mainan terbesar di dunia, memproduksi 75% dari mainan di dunia dan mengekspor lebih dari 100 negara dan wilayah. Pada tahun 2003, ekspor mainan negara Tiongkok sekitar 10 miliar dollar AS. Meningkat sekitar 80 milliar dollar AS pada tahun 2009. Pabrik mainan di provinsi Guangdong memproduksi sekitar 75% dari total ekspor mainan Tiongkok. Sementara itu, sebagian besar produsen negara lain sumber mainan mereka adalah dari Tiongkok.

Keuntungan yang diperoleh Indonesia dalam hubungan diplomatik perdagangan Tiongkok

ICRA (Infection Control Risk Assessment) Indonesia menganalisis keuntungan dan tantangan dari ACFTA bagi perekonomian Indonesia, terutama dilihat dari neraca perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok selama periode 2005-2010,” jelasnya. Perjanjian tersebut mendatangkan beberapa keuntungan, seperti akses yang lebih luas ke pasar Tiongkok bagi ekspotir Indonesia. Kemudian pilihan barang yang lebih beragam dengan harga yang lebih murah di pasar lokal namun juga menimbulkan dampak yang negatif, terutama terkait dengan sektor industri yang perlu lebih diperhatikan.

Dikatakannya, ICRA Indonesia melihat kontribusi ekspor dari sektor industri terhadap total ekspor ke China mengalami penurunan menjadi 56,9 persen di 2010 dari 91,4 persen di 2005. “Faktor-faktor yang mengakibatkan penurunan tersebut termasuk buruknya infrastruktur, akses permodalan yang terbatas dan iklim investasi yang kurang mendukung dibandingkan dengan Tiongkok dan negara-negara tetangga. Menurutnya, ICRA Indonesia memperkirakan dampak negatif di sektor industri tersebut berlanjut dalam jangka waktu pendek sampai menengah. Untuk jangka panjang, diharapkan akan ada perbaikan terutama disebabkan oleh adanya peningkatan yang signifikan pada impor barang modal.[3]

Dengan demikian tidak hanya menimbulkan damppak negatif, tetapi juga ada dampak positifnya pada Indonesia di bidang ekonomi adalah pasar dibanjiri oleh produk-produk dengan harga lebih murah dan banyak pilihan. Dengan demikian, akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan akan meningkat. Hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok tentunya menguntungkan bagi kedua negara, khususnya bagi Indonesia yang selama ini menjadikan Tiongkok sebagai salah satu negara tujuan ekspor, selain Amerika Serikat dan negara-negara di Uni Eropa. Dampak ekonomi yang dirasakan Indonesia, selain dari peningkatan volume perdagangan bilateral, juga dari meningkatnya investasi.

Perkembangan ekonomi yang cepat di Tiongkok, dengan tingkat pertumbuhan PDB tahunan ratarata 9,3% selama dua dekade telah menarik perhatian dunia. Pertumbuhan industri yang cepat tidak hanya disediakan orang Tiongkok dengan barang-barang manufaktur yang melimpah, tetapi juga memperkaya pasar dunia dengan lebih beragam komoditas dengan harga murah. Berdasarkan data statistik lebih dari 8.000 produsen mainan ada di Tiongkok dengan memproduksi lebih dari 30.000 jenis mainan atau sekitar 75% mainan di dunia diproduksi di Tiongkok. Tiongkok telah menjadi negara produsen mainan terbesar di dunia dengan kapasitas 20 miliar yuan per tahun.

Strategi yang dilakukan Tiongkok untuk memperluas pasar Industri mainannya di Indonesia salah satunya ialah melalui China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) yang mulai berlaku 2004 untuk semua anggota ASEAN termasuk Indonesia. Metode utama untuk mencapai tujuan AFTA adalah menerapkan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) skema untuk mengurangi tarif pada semua barang yang diperdagangkan di kawasan ASEAN minimal 5% dan setelah diberlakukannya CAFTA antara Tiongkok dengan Indonesia pada Januari 2010 penurunan tarif menjadi 0%.

Referensi

Prospek hubungan Indonesia-RRC dan negara-negara Sosialis Eropa Timur, Universitas Sumatera Utara, 1989.

R.J & G.S, ;Liberalisme,’ Pengantar studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.

 ‘A.A.R. Hubungan Indonesia-China pasca normalisasi tahun 1990,’vol.3,no.1, 2014.

D.M. ‘Hubungan persagangan Indonesia-China produk mainan anak China di Indonesia(2008-2010), ‘ jurnal transnasional, vol. 4, no. 2.

‘Hubungan bilateral yang terjalin antara Indonesia dengan China,’Laurensia Theodora,10 April 2018, https://kumparan.com/laurensia-t/hubungan-bilateral-yang-terjalin-antara-indonesia-dengan-china

http://www.bps.go.id. Agregat Data Perprovinsi.pdf.

http://www.klakogroup.com/en/china-invest-monthly-newsletter/chinas-major-industries. Industri Utama Cina.

I.R.P, ‘Inilah keuntungan dagang Indonesia-china, 03 Mei 2011,<https://economy.okezone.com/read/2011/05/03/320/452751/inilah-keuntungan-dagang-indonesia-china>.

D.M, ‘Hubungan Perdagangan Indonesia-Cina Studi Kasus: Produk Mainan Anak Cina

Di Indonesia (2008-2010), vol. 4, no. 2, februari 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »