FEMINISME DAN BERBAGAI BENTUKNYA

Penulis: Lucke Kharimah P.S

Feminisme telah menjadi salah satu teori penting dari kajian ilmu sosial, khususnya jika kita berbicara dalam konteks ilmu sosial di ranah pembelajaran Ilmu Hubungan Internasional. Feminisme secara umum berarti gerakan yang memperjuangkan terwujudnya kesetaraan gender. Namun, bisa juga diartikan sebagai perspektif/pendekatan dalam disiplin ilmu sosial. Bagi para perempuan atau laki-laki maupun siapapun itu yang ‘mengaku’ dirinya sebagai salah satu penggiat feminist – karena perlu diketahui bahwa gerakan ataupun ide ini sebenarnya tidak dibatasi ‘hanya’ untuk para perempuan tetapi siapa saja yang memiliki pemikiran yang menunjukkan bahwa mereka memperjuangkan apa yang disebut sebagai hak-hak perempuan.

Namun dalam beberapa kasus, sering kali kita mendapati orang-orang – khususnya media- yang memprotet gerakan ini sebagai gerakan yang ‘provokatif’, atau ‘tidak sesuai dengan norma yang ada’ khususnya di Negara-negara atau lingkup sekitar yang masih memiliki pandangan konservatif, oleh karena itu sering muncul penolakan yang keras terhadap gerakan feminism ini tanpa mereka mengetahui bahwa terdapat pelbagai macam jenis gerakan ini dan para penganut gerakan feminism yang dalam beberapa kasus memiliki pandangan yang berbeda pula dalam melihat satu permasalahan. Oleh karena itu sekarang kita akan membahas secara dasar dan secara mudah dapat mengetahui pemikiran-pemikiran tersebut sehingga kita semua dapat membedakan para pakar feminist yang berbicara dalam platform berita, LSM, ataupun Youtube dan media sosial lainnya sehingga tidak secara langsung menghakimi pendapat mereka melainkan dapat melihat dari sisi feminism manakah yang mereka katakan.

Salah satu pegiat Feminisme yang juga merupakan author dari buku “Feminism and The Contradictions of Oppression” Caroline Ramazanoglu, mengatakan bahwa secara garis besar – walaupun buku ini diterbitkan pada tahun 1986, namun tentu saja author memilih buku ini karena relevensi bacaan yang diberikan masih cukup tinggi, mengingat gerakan feminism sendiri sudah berjalan cukup lama- feminsime terbagi menjadi tiga, yaitu, Liberalis Feminisme, RadikalFeminisme dan Marxist Feminisme. Dalam hal ini, kita akan lebih memfokuskan pada pembahasan New Wave feminism karena feminism inilah yang sekarang sedang menjadi tonggak utama dari gerakan feminism yang berlangsung di dunia.  Mari kita mulai dengan Liberal Feminisme.

Menurut Ramazanoglu, Liberal Feminisme merupakan jenis feminisme yang paling sering di dengar oleh khalayak umum dan tentu saja,  mungkin bagi kalian yang sering melihat berita mengenai gerakan protes atau demonstrasi yang dilakukan oleh para penggiat feminisme yang menuntut kesetaraan hak bagi wanita dan pria, dalam hal ini sering kali melibatkan kesetaraan dalam gaji, pelayanan kesehatan, layanan sosial, segala hal yang menyangkut aspek kegiatan kehidupan sehari-hari wanita yang dibedakan dengan laki-laki, maka hal tersebut tergolong dalam kategori liberal feminsime.

Lalu yang kedua yaitu Radikal Feminisme dimana jika kita melihat dari urutan sejarah dari Feminisme dapat dikatakan sebagai awal gerakan dari New Wave Feminisme dimulai. Mengapa disini author menulis “bisa dikatakan”? tentu saja karena pelbagai ahli memiliki pendapat yang berbeda mengenai awal mula kapan tepatnya gerakan ini muncul.  Tapi karena perlu diingat bahwa artikel kali ini membahas mengenai New Wave Feminisme, maka Radikal Femnisme merupakan awal dari perubahan fokus dari ‘tuntutan’ gerakan feminism yang awalnya hanya berupa perasaan persamaan akan kesengsaraan ataupun penderitaan yang di alami oleh sekelompok wanita menjadi aksi nyata yang diberikan oleh kelompok wanita tersebut terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Jadi, arti radikal disini memiliki arti bahwa para penggiat feminism pada tahun 1970-an memiliki banyak sekali ide dan terobosan secara politik yang menembus dinding-dinging tabu seperti pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan ke ranah public khususnya di bidang politik.  Para penggiat feminism pada tahun 1970-an yang tergabung dalam kelompok radikal ini  mendobrak dunia laki-laki secara langsung namun dengan pemikiran yang luas, rasional, dan cerdik sehingga masyarakat dapat menerima secara logis argument yang mereka berikan dan bagaimana hal tersebut memberikan efek kepada kehadiran peran wanita dalam sisi politik. Jadi, intinya, alasan mengapa radikal femnisme mendapatkan nama gerakan mereka “radikal” karena ide-ide yang mereka lontarkan kepada publik merupakan hal asing dan aneh bagi dunia yang cenderung patriarki pada saat itu, dimana peran wanita seharusnya hanya berada di rumah dan tidak mengurusi mengenai permasalahan politik.

Dan yang ketiga adalah Marxist Feminisme, dimana Marxist feminism banyak dipengaruhi dari radikal feminisme. Pengaruh yang dimaksud adalah bagaimana para penganut faham marxisme yang juga seorang feminist melihat para rekannya yang tergabung dalam kelompok radikal sendiri sebenarnya tidak terlalu mengangkat isu tentang ketidaksetaraan yang terjadi diantara kaum wanita. Marxist feminisme berusaha menggambarkan strata/status rendah perempuan di seluruh bidang kehidupan (ekonomi, sosial, politik), yang mana terbentuk dari adanya sistem kapitalis dan budaya patriarki. Marxist feminisme berpendapat bahwa menghapus sistem kapitalis adalah cara untuk perempuan dalam mendapat perlakuan yang sama. Radikal feminism cenderung dianggap sebagai gerakan para kaum borjois dikarenakan mereka yang dapat menempuh jalur pendidikan atau terlibat dalam politik adalah para kaum wanita ‘elit’ yang cukup berbeda keadaanya dengan para kaum wanita pekerja.

Dari penjelasan diatas, tentu kita dapat melihat dengan jelas adanya perbedaan dalam setiap aliran gerakan femnisme namun jika kita tidak memerhatikannya dengan seksama atau tidak mempelajarinya sama sekali, maka semua aliran itu tidak memiliki arti dan akan terlihat sama saja dimana hal inilah yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Akan saya tekankan sekali lagi bahwa tidak ada yang benar-benar salah atau sempurna dari setiap aliran yang telah disebutkan diatas kerena setiap aliran memiliki fokus mereka sendiri dan kelemahan dalam mendefinisikan feminism. Karena seseorang dapat menjadi penggiat feminism semua hal itu tergantung pada tingkat pendidikan, lingkungan, pengalaman pribadi, umur, banyak sekali faktor yang menyelimuti perjuangan seorang feminist.

REFRENSI:

Feminism and The Contradictions of Oppression” Caroline Ramazanoglu

“ Pengantar Ilmu Hubungan Internasional” Robert Jackson, Georg Sørenson

Abdul Karim, “Kerangka Studi Feminisme (Model Penelitian Kualitatif tentang Perempuan dalam Koridor Sosial Keagamaan)”, Fikrah, Vol. 2, No. 1, Juni 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »