Konflik Syiria dan Relasi Internasional

Oleh: Isyfa Zahrotul Mufidah (Researcher of Security Cluster in Artemis Term)

Syiria adalah sebuah negara yang terletak di Benua Asia, tepatnya di Asia Barat yang biasanya disebut dengan kawasan Timur Tengah. Dalam bahasa Inggris, nama Syiria identik dengan Levant, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai negeri Syam. Negeri ini, menjadi rebutan kekuasaan besar dunia sepanjang sejarah ummat manusia. Hal ini disebabkan karena letaknya yang sangat strategis, sebagai pintu gerbang antara negeri Barat dan Timur. Negara yang memiliki nama lengkap Republik Arab Syiria (Syrian Arab Republic) ini secara astronomisnya terletak di 32°- 38°LU dan 35°-43°BT. Secara geografis, Syiria berbatasan dengan Turki di sebelah utaranya, berbatasan dengan Yordanis di sebelah selatan dan berbatasan dengan Irak di sebelah timurnya. Sedangkan di sebelah barat Syiria adalah Laut Tengah. Ibukota Syiria adalah Damaskus. Luas wilayah Syiria adalah sebesar 185.180 km2. Bahasa resmi Syiria adalah bahasa Arab. Jumlah penduduk Syiria adalah 18.028.549 jiwa (estimasi Juli 2017). Terdiri dari 74% Sunni, Alawi 12%, Kristen 9%, dan Druze 3%. Jika dikombinasikan, maka 90% dari populasi Syiria adalah Muslim. Sedangkan 9% lainnya adalah Kristen, yang mencakup Kristen Arab, Assyria dan Armenia. Mayoritas populasi Syiria adalah etnis Arab (90%) yang memeluk agama Islam. sedangkan minoritas terdiri dari etnis Kurdi, Asiria, Armenia dan Turkmens Circassians.[1] letaknya yang strategis, sumber daya alam yang sangat melimpah menjadikan wilayah ini tidak pernah sepi dari konflik, berbagai kepentingan dan kekuatan internasional telah lama memaksakan untuk memasuki Syiria. Konflik ini menjadikan penduduk Syiria memilih untuk meninggalkan negaranya demi keamanan, karena yang diketahui sekarang adalah Syiria sebagai medan perang antara berbagai kepentingan.

Secara geografis dapat dikatakan bahwa Syiria adalah penghubung antara dua Benua, Asia dan Afrika. Letak yang strategis tersebut menjadikan Syiria sebagai wilayah yang diperebutkan berbagai unsur kekuatan global. Total wilayah Syiria adalah 185.180 km persegi dengan sebagian besar wilayahnya merupakan gurun. dengan sistem pemerintahan Republik. Mayoritas suku di syiria adalah Arab dengan persentase 90,3% dan sisanya suku Kurdi, Armenia dan lain-lain dengan persentase 9,7%.[2]  Masyarakat Syiria adalah masyarakat heterogen yang merupakan perpaduan dari masyarakat homogen dengan budaya yang variatif meskipun terdapat banyak perpecahan etnis, agama, sosial dan geografis. Muslim Sunni mencapai 80% sedangkan Syiah sekte alawit yang dianut oleh Presiden Bashar al-Assad, hanya berkisar 10%. Namun, meskipun demikian Bashar al-Assad dinilai mampu untuk memimpin masyarakat yang mayoritas dan mempersatukan keanekaragaman etnis di Suriah.

Unsur – unsur yang meliputi ekonomi, budaya, sosial sangat berperan dalam pengaruh politik. Peranan manusia dalam politik dipahami sebagai suatu kondisi manusia dalam suatu wilayah yang mempengaruhi keputusan-keputusan politik yang diambil oleh lembaga pemerintah yang mendapat mandate dari rakyat untuk mengatur Negara dalam berbagai bidang kehidupan. Kehidupan Human Geograophy digunakan untuk menguji penggunaan dan implikasi dari kekuasaan untuk menguji tempat dan hubungannya dalam politik dunia sebagai suatu kekuatan untuk melawan perbedaan kepentingan dan kelompok. Human Geography menggunakan pengorganisasian dalam masyarakat, penetapan dan luas kedaulatan suatu Negara untuk kelanjutan dalam proses geopolitiknya. Kependudukanpun penting dalam geografi politik, karena menyangkut pengaruhnya terhadap tatanan politik, misalnya jumlah, persebaran, kualitas, dan strukturnya.

The Arab Spring (kebangkitan Arab, secara harfiah berarti pemberontakan Arab) merupakan rangkaian protes yang berawal dari peristiwa di Tunisia, yakni peristiwa pembakaran diri yang dilakukan oleh Mohammed Bouazizi sebagai protes atas korupsi dan kesewenangan sikap Pemerintah Tunisia. Tindakan Bouazizi melakukan protes membakar diri sendiri di depan gedung pemerintah di Sidi Bouzid, Tunisia telah melahirkan gerakan demonstrasi massal di seluruh Tunisia, dan kemudian menjadi inspirasi gerakan revolusi ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara. Bouazizi menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Pemuda itu hanya berbekal sebuah gerobak, dan berjualan di sekitar kota Tunis, dan mendapatkan uang dari dagangannya sebesar sepuluh dolar (Tunis) per hari. Peristiwa yang membuat putus asa, ketika seorang aparat datang menghampirinya, kemudian menghancurkan gerobak berisi buah-buahan miliknya. Peristiwa itu berlangsung pada 17 Desember 2010, kabar kematian si penjual buah tersiar ke segala pelosok bumi dan pengguna media sosial, Twitter, terus berkicau membakar semangat perubahan dan menyuarakan hak-hak si tertindas.[3] Protes di Tunisia kemudian menginspirasi gelombang kebangkitan yang menjalar ke Aljazair, Yordania, Mesir, Yaman, dan kemudian ke negara-negara lain. The Arab Spring juga melanda Syiria, sebuah negara yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, hal ini terjadi sejak 6 Maret 2011 gelombang demonstrasi prodemokrasi menyebar keseluruh penjuru Syiria terutama di kota Deraa, Syiria.[4]

Dalam perkembangannya pemerintah Syiria menggunakan kekuatan militer untuk menghadang aksi para demonstran yang membuat korban berjatuhan. Tindakan pemerintah yang dinilai melanggar hak asasi manusia ini membuat rakyat semakin tidak puas dengan kinerja pemerintah. Warga sipil dan beberapa tentara yang membelot dari pemerintahan berbondong-bondong bersatu dan membentuk unit pertempuran di bawah bendera Tentara Pembebasan Syiria (Free Syrian Army atau FSA). Carut marut konflik yang terjadi di Syiria menarik perhatian dunia internasional. Sejumlah negara dan organisasi-organisasi internasional turut serta dalam memberikan perhatian terkait konflik ini.

Ada beberapa faktor pemicu konflik Syiria, yakni :

  1. Kesenjangan Ekonomi. Kesenjangan ekonomi yang dirasakan rakyat Syiria sejak masa pemeritahan Hafez al-Assad, terus berlanjut hingga anaknya, Bashar al-Assad, memimpin. Hal tersebut diperparah dengan kondisi rezim yang penuh dengan korupsi dan pegawai-pegawai pemerintahan yang haus akan suap. Pada masa pemerintahan Hafez al-Assad, perekonomian Syiria tertinggal jauh di bawah negara-negara disekitarnya diiringi dengan permasalahan-permasalahan seperti korupsi, kelebihan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan jumlah lapangan kerja, inefisiensi atau tidak tepat guna dalam mengelola keuangan negara. Ketika Bashar al-Assad mulai berkuasa, ia mewarisi kondisi perekonomian dari ayahnya. Kondisi perekonomian pada saat itu memang tidak baik. Pada tanggal 16 Juni 2000 Jean Shaoul dan Chris Marsden menyebutkan perekonomian Syiria dalam masa kesulitan diantaranya, produksi minyak turun menjadi 400,000 barel per hari, Syiria kesulitan menjalankan pelayanan publik karena mengalami krisis, angka kelahiran tinggi dan pendapatan perkapita menurun. Syiria dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan dalam bidang ekonomi. Ditambah dengan utang luar negeri yang terus membengkak. Karena semakin buruknya kondisi perekonomian, maka muncullah ketidakpuasan terhadap Pemerintahan mulai dari kelompok ekonomi yang terpinggirkan. Oleh karena itu perekonomian Syiria makin memburuk di tengah konflik yang sedang berlangsung sejak tahun 2011.
  2. Kebijakan militer. Semasa masih berkuasa, Hafez Al-Assad merupakan tokoh yang pantas diperhitungkan dalam percaturan politik di Timur Tengah. Hafez Al-Assad sangat menentang hegemoni Amerika dan Eropa serta pendudukan Israel. Hafez Al-Assad selalu berjuang baik dalam medan pertempuran maupun di meja perundingan untuk memulihkan hak-hak bangsa Arab, menghadapi agresi dan pendudukan Israel, konspirasi serta propaganda yang dilakukan zionis. Sejak awal 1980an, Hafez Al-Assad mencanangkan kebijakan Syiria dalam konflik Arab-Israel yaitu kekuatan militer Syiria harus terus dibangun sampai mampu mengimbangi kekuatan militer Israel sekalipun tanpa bantuan dari negara-negara Arab lain. Pada tahun 1985, Hafez Al-Assad mengucurkan dana sebesar 3,5 milyar dolar AS atau 35% dari anggaran belanja negara guna membangun sektor pertahanan. Itu belum termasuk pinjaman senilai 15 milyar dolar AS dari negara-negara Blok Soviet yang sebagian besar berbentuk bantuan alat-alat persenjataan. Setahun kemudian 1986, anggaran sektor pertahanan dinaikkan menjadi 56% dari seluruh APBN. Pada tahun 1988 Hafez Al- Assad juga membeli sejumlah peluru kendali jarak menengah dari RRC. Ada kesan bahwa pemerintah Syiria hanya ingin memajukan sektor militer saja karena anggaran belanja Syiria untuk mendanai kebutuhan pasukan militer sangat tinggi. [5]
  3. Sunni-Syiah. Konflik Sunni-Syiah yang berkepanjangan turut mewarnai politik kawasan Timur Tengah. Konflik Syiria tidak terlepas dari campur tangan di balik layar antara Amerika Serikat dan sekutunya yang mayoritas negara Sunni, seperti Arab Saudi dan Turki melawan Rusia yang didukung Iran. Kedua pihak (Amerika dan Rusia) gencar mengirimkan bantuan berupa uang, alat persenjataan, pelatihan militer.

Konflik Syiria dimulai ketika kerusuhan menyebar, tindakan keras semakin meningkat. Para pendukung oposisi mengangkat senjata, pertama untuk membela diri dan kemudian mengusir pasukan keamanan dari daerah mereka. Lalu Assad berjanji untuk menghancurkan “terorisme yang didukung pihak asing” dan memulihkan kontrol atas negara. Kekerasan meningkat dengan cepat dan negara tersebut terjerumus ke dalam perang saudara, sekaligus menjadi awal mula perang Syiria karena ratusan brigade pemberontak dibentuk untuk melawan pasukan pemerintah. Intinya, perang Syiria ini menjadi lebih dari sekedar pertempuran antara mereka yang melawan Assad, namun telah menjadi intervensi kekuatan regional dan dunia, termasuk Rusia, Iran, Amerika Serikat dan Arab Saudi. Perang Syiria terjadi dengan adanya dukungan militer, finansial dan politik mereka untuk pemerintah dan oposisi telah memberi kontribusi pada intensifikasi dan kelanjutan perang Syiria tersebut dan menjadikan Syiria sebagai medan pertempuran proxy. Ada beberapa kekuatan negara asing yang terlibat dalam konflik Syiria, baik yang mendukung ataupun yang menentang pemerintahan Bashar Al-Assad. Kekuatan-kekuatan itu adalah Rusia,Iran, Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Selanjutnya dampak dari perang Syiria menurut Observatorium Syiria untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, melaporkan pada bulan Desember 2016 bahwa mereka telah mendokumentasikan kematian lebih dari 346.600 orang, termasuk 103.000 warga sipil. Namun tercatat bahwa angka tersebut tidak termasuk 56.900 orang yang hilang dan diduga meninggal dunia. Pada bulan Februari 2017, sebuah kelompok pemikir memperkirakan bahwa konflik tersebut telah menyebabkan 470.000 kematian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut UNHCR (United Nations High Comissioner for Refugees) bahwa hampir 5,5 juta orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, telah meninggalkan Syiria. Negara tetangga Syiria, yakni Libanon, Yordania dan Turki telah berjuang untuk mengatasi salah satu eksodus pengungsi terbesar dalam sejarah baru-baru ini. Sekitar 10 persen pengungsi Syiria telah mencari suaka di Eropa, menabur perpecahan politik karena negara-negara saling berdebat untuk berbagi beban. Sebanyak 6,5 juta orang lainnya mengungsi dari dalam Syiria. PBB memperkirakan akan membutuhkan 3,5 milyar dollar untuk membantu 13,1 juta orang yang memerlukan bantuan kemanusiaan di Syiria pada tahun 2018. Hampir 70 persen penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrim. Enam juta orang menghadapi kerawanan pangan akut di tengah kemiskinan dan kenaikan harga. Di beberapa daerah, orang menghabiskan 15-20 persen pendapatan mereka untuk mendapatkan akses terhadap air minum. Partai-partai yang bertikai telah menambah masalah dengan menolak akses agen kemanusiaan kepada banyak orang yang membutuhkan. Sekitar 2,98 juta orang tinggal di daerah yang terkepung atau sulit dijangkau.[6]

Kesimpulan

Penyebab konflik yang terjadi di Syiria disebabkan oleh beberapa hal diantaranya, (a) Kesenjangan ekonomi, hal ini terjadi di Syiria sejak Hafez Al-Assad memang selalu mengalami fluktuasi. Syiria mengalami penurunan produksi minyak, lapangan pekerjaan yang kurang memadai dan faktor cuaca yang semakin panas membuat lahan pertanian mengalami penurunan. (b) Kebijakan militer Syiria, pada masa Hafez Al-Assad kebijakan pemerintah lebih mengarah ke militer. Dan (c) isu sekterian Sunni- Syiah yang terus berhembus. Dan faktor kepentingan keterlibatan negara asing, seperti Amerika Serikat, Rusia, Iran dan Arab Saudi menambah daftar panjang konflik yang terjadi di Syiria.

Sampai saat ini Bashar al-Assad masih bersikukuh pada pendiriannya untuk tak menyerah pada tuntutan yang menghendaki pelengseran dirinya serta ancaman dari berbagai organisasi Internasional. Dan sampai saat ini Rezim Bashar al-Assad masih sangat kuat terhadap berbagai pemberontakan di Syiria. Hal itu didasarkan oleh tiga faktor penting, yaitu: Pertama, Bashar al-Assad menguasai Sistem Politik di Syiria. Kedua, Kuatnya pengaruh Bashar al-Assad dikalangan Militer Syiria. Ketiga, Bashar al-Assad memiliki kemampuan dalam diplomasi yang baik sehingga ia mendapatkan pertolongan dari negara-negara kuat seperti Rusia dan Tiongkok (Cina).


[1] Lihat https://www.kompasiana.com /coffeeaceh /550de202813311 b92cbc6013/miris- mengapa-arab-ramai-ramai-memusuhi-suriah (diakses pada 4 November 2018).

[2] “The World Factbook — Central Intelligence Agency,” accessed December 22, 2016, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sy.html.

[3] M. Agastya ABM, Arab Spring: Badai Revolusi Timur Tengah (Jogjakarta: IRCiSoD, 2013), h. 33.

[4] Pada tanggal 6 Maret 2011 ini, lima belas anak sekolah berusia antara 10-15 tahun membuat coretan di dinding sekolah As Shaab Yoreed Eskaat el Nizam yang berarti “Rakyat Ingin Menumbangkan Pemerintahan”, setelah terjadi penahanan terhadap kelima belas anak-anak kondisi Suriah segalanya berubah. Demontrasi semakin meluas. Lihat Trias Kuncahyono, Musim Semi di Suriah: Anak-anak Penyulut Revolusi, h. 114.

[5] M. Riza Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah (Mizan: Bandung, 1991), h. 116.

[6] https://www.matamatapolitik.com/seluk-beluk-awal-mula-perang-sipil-suriah/ (diakses pada 2 November 2018).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »