Diplomasi Budaya Jepang Melalui Anime, Manga, dan Cosplay

Oleh: Megawati Putri (Researcher of Culture Cluster in Artemis Term)

Jepang merupakan negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Tak kalah dengan Korea Selatan, Jepang memiliki budaya pop yang terus mereka kembangkan. Budaya pop Jepang merupakan salah satu budaya yang populer di dunia. Jepang mengembangkan budaya populer nya melalui produk kebudayaan mereka yang dikenal dengan anime dan manga, dan sudah memiliki penggemar tidak hanya di Jepang, melainkan di seluruh dunia, bahkan telah menembus TV Amerika dan Eropa. Jepang juga memiliki keindahan dan keramahan penduduknya yang mampu menarik minat para wisatawan mancanegara untuk pergi mengunjunginya. Mereka mencerminkan gambaran negara Jepang melalui hasil karya kontemporer berupa komik, anime, dan drama televisi. Fashion juga menjadi salah satu budaya Jepang yang terkenal. Fashion Jepang dikenal dengan sebutan costum player (Cosplay). Penggunaan istilah ini digunakan untuk menggambarkan pemakaian kostum yang lebih cenderung pada event pertunjukan atau penampilan bersama. Budaya Jepang yang di gambarkan dalam berbagai budaya populer yang mereka kenalkan mulai dari bahasa, cara berbicara, kepercayaan, kebiasaan makan, cara berkomunikas, melakukan tindakan sosial, dan lainnya.

Budaya populer di Jepang dikenal dengan istilah taishuu bunka atau budaya massa, minshuu bunka atau budaya rakyat dan minzoku bunka atau budaya bangsa. Menurut Hidetoshi Kato dalam bukunya yang berjudul Handbook of Japanese Popular Culture, menjelaskan bahwa, Jepang lebih mendeskripsikan budaya populer dengan kata budaya massa. Karena menurutnya, budaya massa memiliki pengertian suatu budaya yang disukai oleh seluruh masyarakat, tidak hanya masyarakat Jepang tetapi juga masyarakat dunia, dan budaya populer tersebut juga diproduksi secara massa.[1] Oleh karena itu Kato lebih menjelaskan budaya populer dengan nama budaya massa. Budaya populer Jepang dapat terkenal diseluruh dunia tentu tidak lepas dari adanya proses globalisasi, karena dengan globalisasi dan kecanggihan teknologi yang berkembang mampu dengan mudah digunakan Jepang untuk menyebarkan berbagai budayanya melalui animasi. Globalissi budaya populer Jepang dapat terlihat dengan maraknya acara-acara yang bertemakan Jepang seperti kontes cosplay, karaoke, festival manga, dan tentu saja anime.

Tokoh-tokoh dalam film animasi Jepang juga sudah terkenal, seperti Satoshi dalam Pokemon, Naruto, dan One Piece. Jepang juga memiliki animasi klasik seperti ‘Heidi Anak Pegunungan Alpen’, ‘Candy Candy’, dan ‘Tetsuwan Atom’.[2] Kemudian pada tahun 2014, kementerian luar negeri Jepang mengumumkan akan melakukan “Pop Culture Diplomacy” yang menjadi salah satu agenda politik luar negeri mereka.[3] Sasaran utama dalam pemberlakuan diplomasi budaya populer yang dilakukan oleh Jepang adalah generasi muda, karena generasi muda akan menjadi penerus yang sangat penting dalam keberlangsungan jalannya pemerintahan suatu negara. Pengaruh ini merupakan bentuk dari unsur-unsur soft power dalam dipomasi budaya populer tersebut. Jepang memilih memperkenalkan budayanya melalui film, dikarenakan film merupakan salah satu alat komunikasi massa yang dapat mengangkat pesan dengan meletakkan berbagai sasaran baik agama, status, umur, etnis, dan tempat tinggal. Dan dengan melihat film, seorang penonton akan mendapatkan informasi dan gambar yang menggambarkan realitas tertentu.[4]

Anime adalah salah satu siaran televisi yang dibanggakan oleh Jepang. Anime merupakan hasil dari kemajuan teknologi yang dimiliki oleh Jepang. Anime berasal dari kata animejyon dengan menampilkan gambar berwarna-warni dengan tokoh dalam berbagai cerita derta lokasi yang ditujukan untuk berbagai jenis penonton. Anime merupakan manga atau komik khas Jepang yang difilmkan.[5] Anime merupakan nama Jepang yang memiliki kekhasan, sehingga ketika seseorang menyebut nama anime maka akan langsung mengarah ke Jepang. Salah satu anime yang terkenal oleh dunia adalah Doraemon, yang kemudian pada tahun 2008, Doraemon diangkat menjadi duta budaya populer Jepang oleh Pemerintah Jepang. Doraemon mejadi ikon untuk mempromosikan budaya populer dan bahasa Jepang ke berbagai dunia. Kemudian pada tahun 2009, Kementerian Luar Negeri dan Perdana Menteri Jepang, Tarou Aso mengangkat Cosplay sebagai duta besar budaya populer. Duta besar ini disebut dengan “Kawaii Taishi” atau “Kawaii Ambassador” atau Duta Besar “Imut” dan digunakan untuk mempromosikan budaya populer Jepang sepanjang tahun 2009.[6]

Dengan keunikan budaya populer yang dimiliki Jepang, membuat negara ini berhasil memperkenalkan budayanya dan menjadikan budaya mereka sebagai alat diplomasi untuk berhubungan dengan negara lain. Salah satu negara yang memiliki minat besar terhadap budaya populer Jepang adalah Indonesia. Dengan budaya populer yang mereka miliki, Jepang dan Indonesia dapat berhubungan dengan baik. Jepang mulai memperkenalkan nilai-nilai budayanya di Indonesia dengan menampilkan siaran manga dan anime, melalui ini Jepang berhasil memberikan kesan yang melekat mengenai nilai-nilai Jepang bagi masyarakat Indonesia khusunya kaum muda. Sebelumnya Jepang dan Indonesia tidak memiliki hubungan baik, namun pada tahun 1958, Jepang dan Indonesia membuat perjanjian perdamaian dan memulai hubungan diplomatik. Dengan masuknya budaya populer Jepang ke Indonesia dan mendapat minat yang besar dari kalangan muda Indonesia, semakin mendekatkan hubungan kedua negara, dan merubah perspektif masyrakat Indonesia terhadap Jepang.

Semenjak tahun 2000-an budaya populer Jepang mulai menyebar luas dikalangan anak muda Indonesia. Budaya populer yang terkenal diantaranya anime, manga, dan Cosplay. Bahkan di Indonesia telah banyak perkumpulan-perkumpulan pecinta budaya populer Jepang. perkumpulan perkumpulan ini juga mengadakan berbagai acara anak muda dengan mengidentitaskan perkumpulan mereka sebagai komunitas pecinta dan pemakain budaya populer Jepang. Hingga saat ini telah banyak event bertemakan budaya populer Jepang khususnya Cosplay yang di adakan di berbagai kota di Indonesia, dan event-event ini sangat didukung oleh pihak perwakilan Jepang di Indonesia sebagai sebuah apresiasi.

Kemudian pada tahun 2008, Duta Budaya populer anime Jepang mengunjungi Indonesia sebagai perayaan 50 tahun ikatan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. pada tahun 2011, pemerintah Jepang dan dutanya menjadikan tahun ini untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Jepang di Indonesia lewat budaya populer yang mereka miliki.[7] Dengan maraknya budaya populer Jepang di Indonesia, generasi muda Indonesia dapat mengenal Jepang secara keseluruhan. Baik itu budaya tradisional, nilai-nilai yang dianut Jepang, hingga kebiasaan masyarakat Jepang. Dengan mengkonsumsi budaya populer Jepang secara rutin, akan meningkatkan minat masyarakat muda Indonesia terhadap negara Jepang. ini juga akan meningkatkan minat kalangan muda Indonesia untuk belajar bahasa Jepang, dan meningkatkan minat masyarakat untuk pergi ke Jepang baik untuk belajar, bekerja, dan berlibur.

Salah satu diplomasi Jepang yang menarik minat masyarakat Indonesia adalah Japan Film Festival Indonesia, merupakan salah satu program yang dilaksanakan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat Indonesia dalam rangka memperkenalkan budaya dan bahasa Jepang kepada Indonesia. JFF digunakan untuk memperkenalkan serta memberikan gambaran tentang Jepang kepada masyarakat Indonesia melalui film-film yang telah dihasilkan oleh Jepang. JFF dilaksanakan dengan agenda pemutaran film yang berlangsung di Jakarta, yang kemudian menjadi sebuah event tour pada ahun-tahun berikutnya dengan sasaran kota-kota lain yang ada di Indonesia. film-film yang ditayangkan adalah film-film terpilih yang menggambarkan atau menceritakan mengenai penduduk Jepang.

Japan Film Festival mengadakan pameran film di 11 negara yaitu 10 negara ASEAN dan Australia. Japan Film Festival di Indonesia didirikan pada tahun 2015, dibangun dibawa Japan Foundation melalui Agency of Cultural Affairs dari Jepang dan bekerja sama dengan Duta Besar Jepang. event ini mulai terlaksana pada tahun berikutnya yang berlangsung di Jakarta.[8] Dan Japan Film Festival mulai diagendakan unduk diadakan setiap tahun. Film-film yang ditayangkan bertemakan kehidupan serta budaya yang dianut oleh Jepang. beberapa film yang ditayangkan dalam event ini adalah Kako: My Sullen Past (Fugen Na Kako), Over The Fence, Sanada ten Braves (Sanada Juyushi), Rudolf The Black Cat (Rudolf ti Ippai-attena), The Boy and The Beast (Bakemono No Ko), Tsukiji Wonderland, Creepy, What a Wonderful Family (Kazoku Wa Tsuraiyo), dan The Magnifient Nine (Tono, Risoku de Gozaru).[9]

Pada tahun 2017, Japan Film Festival menjadwalkan pengadaan event di 4 kota besar yang ada di Indonesia yaitu Denpasar, Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta, dengan menayangkan sejumlah film seperti A Story of Yonosuke (Yokomichi Yonosuke), Harmonium (Mononoke-Hime), My Neighbor Totoro (Tonari No Totoro), Good Stripes, My Chibi Maruko-Chan: A Boy From Italy (Chibi Maruko-Chan: Italy Kara Kita Shounen), Uncle (Boku no Ojisan), Memoris of a Murdere/ 22 Nenme no Kokuhaku: Watashi ga Satsujinhan desu, dan Drowning Love. Pada tahun 2018, JFF kembali mengadakan eventnya di 4 kota yaitu Makassar, Jakarta, Yogyakarta, dan bandung.[10]

Saat ini Jepang menjadi salah satu negara idaman dan menjadi salah satu tujuan untuk menuntut ilmu bagi kalangan muda di Indonesia. Pemerintah Jepang juga memberikan dukungannya dengan memberikan berbagai beasiswa dan pelatihan bagi para pelajar, pegawai pemerintahan, guru, perawat, dan lainnya.  Dengan meningkatnya minat pendidikan ke Jepang, akan berpengaruh terhadap peningkatan standar ilmu dan standar pengajaran di Indonesia, dengan meniru standar yang digunakan Jepang. Nilai-nilai yang dianut Jepang juga akan terbawa ke Indonesia yang dibawa oleh para alumni dari Jepang. kemudian nilai-nilai tersebut nantinya secara tidak langsung akan disalurkan melalui lembaga atau pribadi. Dengan semakin terkenalnya budaya populer Jepang di Indonesia, akan menjadi bentuk politik praktis dalam jangka panjang bagi pihak Jepang yang berada di Indonesia, dimana pemerintah Jepang menggunakan budaya populer mereka untuk memperkuat posisi mereka dimata generasi muda Indonesia. Pola pikir serta cara pandang masyarakat Indonesia kepada Jepang akan semakin berkembang melalui budaya populer yang disebarkan di Indonesia. Dengan terciptanya pandangan baik terhadap Jepang, maka akan menciptakan keuntungan bagi pemerintah Jepang. semakin baik posisi Jepang di Indonesia, maka akan semakin memperlancar Jepang dalam mencapai kepentingan nya di Indonesia.


[1] Antar Venus; Lucky Helmi, 2010, Budaya Populer Jepang di Indonesia: Catatan Studi Fenomenologis Tentnag Konsep Diri Anggota Cosplay Party Bandung, Jurnal ASPIKOM, vol, 1, no, 1, hlm, 73.

[2] Nalti Novianti, 2007, Dampak Drama, Anime, dan Musik Jepang Terhadap Minat Belajar Bahasa Jepang, Jurnal LINGUA CULTURA, vol, 1, no, 2, hlm, 152.

[3] Aidil Auidra; Hamdani M. Syam, 2019, Analisis Semiotika, Representasi Budaya Jepang Dalam Film Anime Barakamon, vol, 4, no, 3, hlm, 4

[4] Ibid, hlm, 5.

[5] Ibid, hlm, 8.

[6] Aulia Amalina, 2012, Budaya Populer Jepang Sebagai Intrusmen Diplomasi Jepang, Andalas Journal of International Studies, vol, 1, no, 2, hlm, 109-110.

[7] Ibid.,

[8] Resty Amenia, Artho Viando, 2016, Jepang Pamerkan Belasan Film dalam JFF 2016 di Jakarta, diakses dalam https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20161125215641-224-175402/jepang-pamerkan-belasan-film-dalam-jff-2016-di-jakarta (01/04/20 pukul 20.30)

[9] Japanese Film Festival 2018 Films, diakses dalam http://id.japanesefilmfest.org/jff2018/ (01/04/20 pukul 20.30)

[10] Ibid.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »