Peran Gastrodiplomacy dalam Memperkuat Hubungan Diplomasi Indonesia dengan Negara Lain

Oleh: Anasya Dewi Rahma Sarita (Researcher of Culture Cluster in Artemis Term)

Seiring dengan makin kompleksnya isu-isu dalam hubungan internasional, aktivitas diplomasi dituntut berperan lebih signifikan dan efektif untuk kepentingan nasional. Muncul alternatif diplomasi dalam bentuk gastrodiplomasi. Gastrodiplomasi sendiri yaitu Diplomasi Budaya yang menggunakan makanan sebagai sarana untuk meningkatkan brand awareness bangsa. Meskipun ada banyak cara bagi suatu negara untuk menentukan dan memvisualisasikan identitasnya, makanan adalah salah satu cara yang sangat nyata. Strategi ini berusaha untuk mengekspor artefak budaya untuk dunia yang lebih luas dalam bentuk hidangan nasional, atau lebih luas lagi, makanan nasional. Makanan dan simbol-simbol yang diwakilkan dapat digunakan untuk mengkomunikasikan ide-ide, nilai-nilai, identitas, sikap serta kelas sosial yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa makanan telah menjadi bagian penting dari diplomasi tradisional sejak zaman kuno.[1] Gastrodiplomasi merupakan bagian dari Diplomatic Public dan Diplomasi Budaya, yang merupakan cara halus untuk dapat meningkatkan apresiasi, membangun saling pengertian, dan memperbaiki citra bangsa.[2]Gastrodiplomasi merupakan salah satu elemen dalam Diplomasi Kebudayaan melalui pengenalan budaya dalam makanan. Kekayaan ragam makanan sebuah bangsa menjadi daya tarik bangsa tersebut di mata internasional. Dalam tradisi makanan sebuah bangsa terdapat nilai-nilai kepribadian bangsa yang diwariskan secara turun – temurun. Pengalaman kuliner tersebut menawarkan kepada Warga Negara Asing cara berinteraksi informal dengan budaya yang berbeda dengan cara yang lebih akrab melalui rasa. Dengan pengalaman kuliner baru tersebut, mereka diharapkan mengenal budaya lain.

Makanan menjadi sarana komunikasi non-verbal yang sangat kuat untuk mengubah persepsi publik internasional dan mempromosikan negara di panggung global. Bagi banyak warga dunia yang tidak berpergian ke luar negeri, pendekatan kuliner dapat menjadi daya tarik yang kuat untuk mengenal dan mengunjungi bagian-bagian lain dari dunia yang belum pernah mereka ketahui melalui rasa makanan negara lain. Diplomasi ini memberi gambaran budaya suatu negara dalam hal makanan, bagaimana makanan tersebut dibuat, disajikan, dan menjadi simbol identitas budaya. Ini menjadi instrument untuk menciptakan pemahaman lintas budaya dengan harapan meningkatkan interaksi dan kerja sama internasional. Kekuatan dan koneksi makanan dan nasionalisme telah menjadikan makanan sebagai salah satu alat hubungan internasional.[3] Makanan sebagai alat diplomasi penting diakui Hillary Clinton mantan Menteri Luar Negeri AS pada masa Pemerintahan Barack Obama. Gastrodiplomasi menjadi smart power untuk mempermudah diplomasi bilateral Amerika Serikat saat itu. Kementrian Luar Negeri Clinton membentuk satu corps chef khusus untuk yang bertugas menyajikan hidangan spesial yang disesuaikan dengan negara asal tamu sebagai bentuk penghormatan kepada tamu tersebut. Dengan cara itu tamu merasa senang dan dihormati sehingga pembicaraan yang terjadi dalam kunjungan bilateral tersebut diharapkan berjalan lancar sesuai kepentingan politik Amerika Serikat.[4]

Negara berkembang memanfaatkan gastrodiplomasi untuk membentuk national branding.[5] Ketidakseimbangan arus informasi dunia yang didominasi oleh informasi yang berasal dari negara-negara maju, menyebabkan sangat berkurangnya arus informasi yang berasal dari negara berkembang. Hal ini dapat berakibat pada ketidaktahuan dan kesalahpengertian terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi negara-negara berkembang. Gastrodiplomasi juga menjadi strategi agar negara berkembang lebih dikenal dan lebih mendapat simpati dari masyarakat internasional. Dalam perkembangannya hubungan internasional tidak semata dipandang sebagai hubungan antar pemerintah, namun juga hubungan antar masyarakat. Diplomasi tidak lagi hanya ditujukan untuk tataran pemerintah dan negara saja, namun bergeser pada aktor-aktor internasional yang mempengaruhi para pembuat kebijakan di negara tersebut, termasuk masyarakat di masing-masi ng negara. Dalam hal menarik simpati masyarakat internasional inilah, gastrodiplomasi berperan karena strategi ini selalu melibatkan publik dalam proses diplomasi. Gastrodiplomasi membantuk menarik minat publik untuk mengenal dan bersimpati kepada negara tersebut dengan lebih baik.

Masyarakat internasional melihat citra sebuah negara dari produk yang dihasilkan, diantaranya kegiatan pariwisata, bisnis, dan politiknya. Citra negara memiliki arti penting karena itu setiap negara berusaha memberikan gambaran yang baik. Upaya membangun citra baik sangat terkait dengan kemampuan soft power. Beberapa masakan Indonesia terpilih dalam daftar World’s 50 Best Foods versi CNN antara lain sate, nasi goreng, bahkan rendang padang menduduki posisi pertama di tahun 2011. Indonesia juga memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang kemudian menjadi ciri masakan Indonesia. Daya tarik rempah Indonesia sangat kuat, bahkan penjajahan Eropa di Indonesia bermula dari keinginan bangsa Eropa menguasai rempah tersebut. Namun Indonesia nyaris tidak dikenal dalam peta kuliner global. Restauran khas Indonesia di luar negeri tidak banyak, sangat tidak sebanding dengan banyaknya restoran khas negara lain di Indonesia. Potensi kuliner Indonesia harus dioptimalkan untuk kepentingan nasional Indonesia. Dengan potensi kuliner yang ada di Indonesia, mengapa Indonesia tidak menjadi negara yang tampil kuat dalam gastrodiplomasi di dunia internasional.

Pemerintah Indonesia lambat dalam menggarap potensi gastrodiplomasi. Di beberapa negara di Asia, kesadaran akan manfaat gastrodiplomasi sebagai elemen penting telah muncul sejak sepuluh tahun yang lalu. Negara seperti Thailand, Korea, Singapura, dan Taiwan sudah memiliki program yang khusus dibuat untuk memperkenalkan budaya makanan khas mereka secara internasional. Sebagai contoh, Korea Selatan dengan program global Hansik telah berdampak pada perekonomian Korea Selatan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah ekspor dan berkembangnya jumlah pasar produk-produk pertanian dan makanan Korea Selatan terutama di Asia Tenggara.[6] Keberhasilan beberapa negara berkembang meningkatkan nation branding dan perekonomian dengan dukungan gastrodiplomasinya merupakan sebuah wake up call bagi Indonesia untuk segera membangun strategi serupa. Kemlu perlu segera menyusun sebuah grand design diplomasi kuliner Indonesia sebagai bagian dari soft power diplomacy Indonesia. Hal ini antara lain bertujuan agar masakan Indonesia lebih dikenal luas oleh masyarakat internasional dan kuliner Indonesia dapat menjadi bagian penting di kuliner global. Promosi kuliner melalui gastrodiplomasi tidak saja akan mewakili tampilan budaya, namun juga akan membawa manfaat bagi kepentingan ekonomi Indonesia. Gastrodiplomasi, sebagai salah satu bentuk diplomasi, bukanlah suatu kegiatan yang dapat berdiri sendiri, namun dibutuhkan peran aktor-aktor internasional lain dalam pelaksanaanya. Diplomasi berkaitan dengan pengelolaan hubungan antar negara. Isu yang menjadi inti pembahasan dapat melampaui isu politik-strategis, namun dengan tetap mengarah pada kepentingan nasional. Pelaku diplomasi diperluas tidak hanya diplomat tetapi juga aktor internasional lainnya, termasuk para pejabat dari berbagai kementrian dalam negeri atau perorangan.[7] Di era otonomi daerah saat ini peran Pemerintah Daerah sangat penting. Baik Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten atau Pemerintah Kota harus terinformasikan tentang gastrodiplomasi dan mempunyai visi dan misi yang searah dengan kebijakan gastrodiplomasi pemerintah pusat agar semua bergerak sesuai tujuan yang sama. Saat ini Pemerintah Daerah masih terpaku pada pola pikir bahwa gastrodiplomasi, sebagai salah satu bentuk diplomasi yang merupakan urusan Pemerintah Pusat. Istilah “gastrodiplomasi” belum popular di kalangan Pemerintah Daerah. Pemda belum meyakini potensi daya tarik kuliner secara tunggal akan berhasil dijual, baik untuk menarik wisatawan minat khusus ke daerahnya atau sebagai komoditas perdagangan. Belum kuatnya dukungan publik di dalam negeri ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai diplomasi. Oleh karena itu penyampaian informasi dan sosialisasi kebijakan luar negeri tidak hanya kepada negara lain, namun juga kepada masyarakat domestik agar mendapatkan dukungan. Pada dasarnya pendekatan budaya dalam konteks gastrodiplomasi memiliki aktivitas yang luas, yang tidak hanya dilakukan pemerintah tetapi juga masyarakat biasa.

Kuliner merupakan pendukung kegiatan pariwisata alam dan budaya. Wisata kuliner diharapkan menjadi salah satu andalan pariwisata Indonesia yang menjadi pendukung naiknya target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Kementrian pariwisata juga berupaya untuk meningkatkan potensi ekonomi kuliner sebagai ujung tombak pariwisata melalui program gastrodiplomasi. Termasuk berkunjung ke daerah penghasil makanan, acara festival makanan, pasar petani, acara memasak dan demonstrasi, serta mencicipi produk makanan berkualitas  dan aktivitas pariwisata yang berhubungan dengan makanan. Wisata makanan tersebut diharapkan memberi pengalaman, hasil dari proses belajar budaya yang berbeda. Meskipun masyarakat dan banyak pelaku wisata di daerah mengaku awam terhadap istilah gastrodiplomasi, dalam bentuk yang sederhana mereka telah melaksanakannya. Seperti diplomasi akar rumput[8] yang dilakukan Pokdarwis di daerah Gunung Kidul dalam mempromosikan pangan lokal olahan umbi-umbian kepada turis asing yang datang untuk kegiatan panjat tebing di daerahnya. Ini merupakan usaha dari publik itu sendiri. Dalam program ini wisatawan asing juga diajak untuk menikmati makanan daerah dengan cara penyajian lokal berdasarkan adat budaya lokal setempat. Dalam menghadapi persaingan global, khususnya pemasaran produk pertanian, industri pangan Indonesia harus lebih dinamis dan inovatif. Sesuai dengan iklim tropis, Indonesia mampu menghasilkan produk pertanian khas yang tidak mampu dihasilkan negara dengan empat musim. Beberapa komoditi ini dapat diproses menjadi exotic commodity yang laku dan menarik dipasaran internasional. Hal ini telah dilakukan negara tetangga seperti Thailand dan Filipina dengan ekspor buahnya.

Kesimpulan

Gastrodiplomasi merupakan strategi untuk memperkuat diplomasi Indonesia karena isu ini tidak hanya sebatas mengenai mempromosikan makanan Indonesia di luar negeri semata, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik. Gastrodiplomasi semakin diperlukan untuk memperkuat diplomasi Indonesia. Keunggulan strategi jangka panjang dengan sasaran publik ini dapat memainkan peran menarik simpati masyarakat internasional. Selain untuk meminimalkan dampak negatif terkait negara yang bersangkutan, gastrodiplomasi juga membantu meningkatkan potensi ekonomi. Oleh sebab itu peran Kemenlu sebagai aktor utama juga sangat diperlukan. Indonesia harus memanfaatkan perkembangan global ini dengan lebih kreatif dengan memanfaatkan potensi kuliner yang ada untuk mencari celah keunggulan kompetitif ekonomi. Hal ini dapat terjadi apabila gastrodiplomasi menjadi salah satu prioritas dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Namun nyatanya, potensi kuliner Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga kuliner dan gastrodiplomasi belum dianggap menjadi isu yang penting. Upaya gastrodiplomasi untuk memperkuat diplomasi publik Indonesia tidak cukup dengan hanya festival atau acara kuliner yang dikemas dalam berbagai acara kebudayaan maupun promosi pariwisata di luar negeri semata. Perlu adanya sinergi antara instansi yang berkaitan agar mempunyai tujuan yang jelas, konkrit, dan terstruktur untuk pengembangan program gastrodiplmasi secara nasional.


[1] Juyan Zhang, “The Foods of the Worlds: Mapping and Comparing Contemporary Gastrodiplomasi Campaigns”, International Journal of communication Vol.9, (2015): 568 – 591.

[2] Tulus Warsito dan Wahyuni Kartikasari, Diplomasi Kebudayaan: Konsep dan relevansi bagi Negara Berkembang, Studi Kasus Indonesia. (Yogyakarta: Ombak, 2007), 29 – 30

[3] Sam Chapple-Sokol, “Culinary Diplomacy: Breaking Bread ti Win Hearts and Minds”, The Hague Journal of Diplomacy 8 (2013): 161-183.

[4] “State Department using food as tool for diplomacy”, 10 September 2012, diakses 19 Februari 2017, http://www.foxnews.com/leisure/2012/09/10/state-department-to-induct-1st-american-chef-corps.

[5] Paul Rockower, “Why Not Feed Indonesia to the World?”, 10 Desember 2010, diakses 17 Februari 2016, https://jakartaglobe.beritasatu.com/archive/why-not-feed-indonesia-to-the-world/.

[6] Wahyu Kurniawan M, “Analisis Strategi Gastrodiplomasi Dalam Pendekatan Gastronasionalisme Terhadap Dinamika Perkembangan Ekonomi Politik Korea Selatan”, Jurnal Ilmiah Universitas Bakrie, Vol 3, No 03 Agustus (2015), diakses tanggal 30 April 2017, id.portalogruda.or/index.php?ref=browseand=viewerticle&article=357404.

[7] R.P . Barston, Modern Diplomacy, Fourth Edition (London: Routledge, 2014), 1.

[8] Tonny Dian Effendi, Diplomasi Publik Jepang Perkembangan dan Tantangan, (Bogor; Ghalia, 2011), 92.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »