Regionalisme

Oleh: Mawaddah Dhuha R.

Kompleksitas hubungan internasional membuat interaksi tidak hanya antar nation state lo, tetapi juga interaksi regional. Jadi kali ini kita akan belajar sama-sama tentang regionalisme. Hal mendasar yang perlu kita ketahui adalah perbedaan region, regionalisasi, dan regionalisme. Menurut Mansbach, “region atau kawasan adalah pengelompokkan regional yang diidentifikasi dari basis kedekatan geografis, budaya, perdagangan, dan ketergantungan ekonomi yang saling menguntungkan, komunikasi serta keikutsertaan dalam organisasi internasional”. Regionalisasi adalah dinamika proses interaksi antara aktor negara maupun non negara yang bisa jadi tidak memiliki kedekatan secara geografis namun membentuk satu identitas politik atau ekonomi yang berada dalam satu spektrum  (Hook, 2002). Sedangkan regionalisme adalah suatu kebijakan atau peraturan yang mana aktor negara dan non negara melakukan kerjasama dan koordinasi strategi dalam suatu wilayah regional (Fawcett, 2005).

Fenomena regionalisme telah ada sejak abad ke 19. Lalu bagaimana dengan perkembangannya? Mansfield dan Miller membagi perkembangan regionalisme menjadi 4 gelombang. Gelombang pertama dimulai pada abad ke 19, revolusi industri dan kemajuan teknologi berdampak pada masifnya perjanjian perdagangan bilateral antara negara Kawasan Eropa, sehingga terbentuknya regionalisme di Kawasan Eropa. Memasuki gelombang kedua regionalisme yang ditandai dengan Perang Dunia I, reginonalisme sudah menyebar ke beberapa wilayah lain seperti Amerika. Namun justru melahirkan tumbuhnya blok-blok perdagangan yang diskriminatif dan protektif sehingga terindikasi menyebabkan Great Depression pada tahun 1930. Gelombang regionalisme ketiga muncul pasca Perang Dunia II. Pasca Perang Dunia II muncul fenomena dekolonisasi negara-negara terjajah, dan menjadi negara-negara berkembang yang bergantung pada negara-negara maju. Selain itu hawa Perang Dingin atas ekspansi ideologi semakin kuat. Gelombang regionalisme terakhir dimulai pasca Perang Dingin, pada masa ini terjadi peningkatan interaksi kerjasama antar negara dalam kawasan sehinga menyebabkan interdependensi.

Paparan singkat diatas merupakan gambaran awal dari regionalisme. Sampai saat ini regionalisme tumbuh secara pesat, interaksi dalam satu kawasan semakin masif, begitu pun dengan peluang interaksi luar kawasan. Mayoritas kerjasama regional yang semula adalah sektor perdagangan, kini semakin meluas ke sektor lain seperti lingkungan, pembangunan, pendidikan, dst. Sebagai contohnya adalah Uni Eropa, Uni Eropa merupakan organisasi kerjasama regional yang tumbuh dan berkembang melalui integrasi regional. Integrasi adalah suatu proses di mana kualitas hubungan antara unit-unit sosial yang (dahulunya) otonom berubah menjadi sebuah unit yang lebih besar. Konsep dari integrasi secara sederhana dapat dipilah menjadi dua; integrasi politik dan integrasi ekonomi. Konsep integrasi politik dipahami sebagai proses pemimpin politik negara-negara terdorong untuk menciptakaan dan memberikan lembaga (otoritas supranational) kekuasaan, loyalitas, dan new level og government. Sehingga ketika sekelompok negara sudah terintegrasi secara politik, maka berbagai kebijakan dan keputusan dibuat secara bersama dan mendelegasikan kekuasaan kepada lembaga tersebut. Bagaimana dengan integrasi ekonomi ? Integrasi ekonomi dipandang sebagai suatu proses liberalisasi ekonomi di suatu kawasan dengan menghapuskan berbagai hambatan-hambatan perdagangan, menyetarakan kebijakan moneter, dan membebaskan pergerakan orang, barang, jasa, dan uang demi meningkatkan kemakmuran. Lalu apakah Uni Eropa terbentuk karena integrasi politik atau integrasi ekonomi? Nah untuk memahami hal ini, disini akan kita bahas perspektif fungsionalisme dan neo fungsionalisme yang menawarkan alternatif cara memahami integrasi regional.

Fungsionalisme David Mitrany

Pada sekitar abad ke 20 David Mitrany mencetuskan perspektif fungsionalisme. Perspektif ini merupakan turunan dari liberalisme, yang mana memiliki kesamaan dalam menekankan kerjasama. Gagasan dari perspektif fungsionalisme didasarkan pada upaya memadukan ‘institusi-institusi’ dalam konteks ini adalah ‘negara’ dalam suatu kerjasama regional. Kompleksitas hubungan antara negara tersebut akan melahirkan organisasi spesifik yang fungsional. Maka dari itu, perspektif ini sangat erat kaitannya dengan organisasi kerjasama internasional. Menurut perspektif ini, kerjasama tidak dimulai dengan isu-isu high politics seperti bidang pertahanan atau kebijakan ekonomi. Namun justru berkembang dengan isu-isu relatif seperti bidang industri tekstil, jasa pos, dst.

David Mitrany menulis karyanya yang berjudul A Working Peace System pada tahun 1943. Dalam karya ilmiahnya ini perspektif fungsionalisme hadir sebagai sebuah pendekatan yang tidak hanya memfokuskan interaksi mutualisme antara negara, tetapi juga mengharapkan kerjasama yang dijalin dapat mencegah ataupun mengurangi konflik, sehingga menciptakan kedamaian dan kesejahteraan. Pemikiran fungsionalisme ini kemudian mempengaruhi para pemimpin Eropa yaitu Robert Schumann dan Jean Monnet, kedua pemimpin ini yang menempatkan produksi baja dan besi Prancis dan Jerman dalam otoritas struktur kontrol organisasi supranasional dalam The Schumann Plan pada tahun 1951. Baik Shumann maupun Monnet menyetujui pendapat Mitrany bahwa kerjasama di suatu bidang tertentu akan membawa keuntungan yang lebih besar, serta perdamaian lebih cenderung tumbuh melalui kerjasama daripada menandatangani pakta perdamaian. Dengan dasar perspektif fungsionalisme, maka terbentuklah European of Coal and Steel Community melalui Treaty of Paris pada 18 April 1951.

Neo-Fungsionalisme Ernest Hass

Ernest Hass sebagai akademisi asal Amerika Serikat pada tahun 1958-an tertarik dengan fenomena regionalisme yang terjadi di Eropa Barat. Ernest Hass menemukan pattern yang sama dengan perspektif fungsionalisme tetapi lebih kompleks sehingga Hass mengkritik perspektif fungsionalisme. Kritik Hass atas perspektif fungsionalisme adalah bahwa seharusnya fungsionalisme tiadakan meniadakan unsur politik dalam integrasi regional Eropa, karena unsur politik dinilai penting secara teknis dalam suatu kerjasama yang mana dapat tercapai dengan keputusan politik. Dengan demikian, kerjasama ekonomi di Eropa Barat tidak dapat dipisahkan dari masalah politik. Hans melihat adanya tipe pemerintahan supranasional Eropa Barat yang secara tidak lansgung menggunakan penetrasi politik terhadap isu ekonomi. Keputusan ekonomi yang dihasilkan pun juga cenderung berbau politis.

Kerjasama regional European of Coal and Steel Community (ECSC) semakin berkembang dan menjadi European Economic Community (EEC) dibawah Treaty of Rome pada 1957. Tujuan utama EEC adalah pembentukan common market yang meliputi kerjasama seluruh sektor ekonomi, tidak lagi seputar besi dan baja. EEC juga membentuk institusi yang terdiri dari badan legislatif melalui council, badan eksekutif melalui commission, dan court of justice sebagai kontrol hukum. Pembentukan struktur institusional ini membuktikan kritik Hass terhadap fungsionalisme adalah benar, bahwa kerjasama ekonomi yang semakin kompleks juga akan mengarah pada kerjasama sektor politik. Maka dari itu unsur politik tidak bisa dihilangkan dalam kerjasama ekonomi. Perkembangan ECSC menjadi EEC merupakan contoh mekanisme terbentuknya integrasi politik.

Untuk menjelaskan hal tersebut, perspektif neo fungsionalisme memiliki konsep spillover. Konsep inimengambarkan urgensi dari regionalisme ekonomi sebagai awal pembentukan dari integrasi regional, yang kemudian kerjasama akan berlanjut dan diperdalam menuju kerjasama di sektor lainnya. Hal inilah yang terjadi di Eropa Barat, setelah sukses dengan ECSC maka diperluas sektor kerjasama menjadi EEC dan keberhasilan yang dicapai menjadi enlargement dalam tubuh Uni Eropa.

Fawcett, L. (2005). “Regionalisme From an Histrorical Prespective”. In Global Politics of Regionalisme, by Marry Farrel, Bjorn Hettne, Luk Van Langenhove. London: Pluto Press.

Haas, E. B. (1968). The Uniting of Europe. California: Stanford University Press.

Hook, G. D. (2002). Regionalism. Government and Politics, 4-5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »