Hubungan Internasional Dalam Melihat Security Dilemma: Sebuah Pengantar

Oleh: R. Muhammad Oddy Nurfiansyah

John H. Herz dalam bukunya yang berjudul Political Realism and Political Idealism pada tahun 1951 menjadi awal mula munculnya istilah Security Dilemma. Namun dalam waktu yang bersamaan pula, akademisi di belahan dunia lain, tepatnya di Inggris, yaitu Herbert Butterfield, turut menggambarkan keadaan serupa melalui bukunya dengan judul History and Human Relations. Perbedaannya adalah penggunaan istilah dimana Butterfield menggunakan istilah ‘absolute predicament and irreducible dilemma’ (keadaan mutlak dan dilema tak tereduksi). John H. Herz berpendapat bahwa dilema keamanan dalam Hubungan Internasional adalah sebuah “gagasan struktural dimana upaya – upaya yang diambil oleh sebuah negara untuk menjaga keamanan nya sendiri, terlepas dari apapun niatnya, cenderung memicu ketidaknyamanan bagi negara – negara lainnya, terutama negara yang berada di sekitarnya, karena masing – masing negara (yang melakukan tindakan tersebut) menganggap bahwa tindakan yang diambil hanyalah bersifat defensif dan tindakan yang diambil negara lain bersifat mengancam”.

Dalam perkembangannya, Security Dilemma atau Dilema Keamanan kerap kali memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena dalam panggung global. Fenomena tersebut seringkali juga digambarkan dalam keadaan spiral mode (mode spiral) dimana terdapat sebuah kondisi negara yang kerap meningkatkan pertahanan nya dalam segi kekuatan militer atau juga membentuk sebuah aliansi dengan negara lain. Tindakan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi negara lain khususnya negara tetangganya, untuk juga melakukan hal yang serupa. Hal tersebut dapat berimplikasi pada peningkatan ketegangan yang pada akhirnya akan menciptakan situasi konflik, terutama pada suatu kawasan internasional.

Mengacu pada tatanan sistem internasional yang bercorak anarki, tiap – tiap negara membutuhkan kekuatan/power serta keamanan. Setiap negara pasti akan merasa berkewajiban dalam peningkatan baik dalam segi sarana ataupun instrumen kekuatan militer baik yang bersifat utama maupun pendukung. Kekuatan militer dan persenjataan suatu negara merupakan representasi dan juga bukti bahwa negara tersebut memiliki kekuatan, juga sebagai alat pencegahan serta pertahanan demi terjaminnya keamanan suatu negara dari ancaman yang bersifat eksternal, dalam konteks ini adalah negara lain. Dengan kondisi yang chaotic tersebut, negara kemudian menganggap bahwa keamanan merupakan kebutuhan utama mereka.

References

Jervis, R. “Cooperation under the Security Dilemma,” World Politics vol. 30, no.2 (January 1978), hlm. 167–174

Jervis, R. Perception and Misperception in International Politics (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1978), hlm. 58–113.

Roe, Paul. The Intrastate Security Dilemma: Ethnic Conflict as a ‘Tragedy’? Journal of Peace Research vol. 36, no. 2 (Mar 1999), hlm. 183–202.  

Herz, J. “Idealist Internationalism and the Security Dilemma”, World Politics vol. 2, no. 2 (1950): 171–201, hlm. 157 (Published by Cambridge University Press).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »