Hobbes and Classical Realism – A Story of Leviathan

Oleh: R. Muhammad Oddy Nurfiansyah

Thomas Hobbes merupakan satu dari sekian banyak pemikir-pemikir realis. Ia merupakan seorang pemikir realis klasik pada zaman nya. Ide dan gagasannya berbicara mengenai kekuasaan dan negara. Hobbes juga memberikan analogi tentang bagaimana sebuah negara dan kekuasaan itu seharusnya dipandang. Negara yang diibaratkan oleh Hobbes ialah ibarat sebuah monster laut atau dikenal dengan istilah Leviathan yang ganas dan berkuasa, menakutkan serta bengis yang tertulis dalam kisah Perjanjian Lama. Keberadaan Leviathan ini dianggap selalu mengancam mahluk-mahluk lain yang ada di sekitarnya. Sehingga, Leviathan merupakan sosok monster yang tidak hanya ditakuti, namun juga dipatuhi segala perintahnya.

            Menurut analogi Hobbes, negara kekuasaan (machsstaat) sebagai Leviathan. Dalam analogi ini, suatu negara yang memiliki kekuasaan dapat menciptakan rasa takut kepada siapapun yang melanggar hukum negara. Bila terdapat pelanggaran hukum yang dilakukan oleh warga negara Leviathan, maka selayaknya negara kekuasaan tersebut harus menjatuhkan hukuman mati. Dalam anggapannya, negara Leviathan harus kuat karena jika negara itu lemah, maka akan menimbulkan anarki serta kekacauan. Anarki yang dimaksud dapat dipahami sebagai bentuk perpecahan, perang saudara yang mudah meletus, sehingga mengancam kekuasaan dan kedaulatan negara yang mengakibatkan negara terbelah.

            Hobbes membuat tiga asumsi sederhana yaitu; 1) Men are equal, kata ‘men’ yang dirujuk disini lebih mengacu pada pendalaman pemahaman tentang perspektif yang bersifat maskulin, 2) They interact in anarchy, 3) They are driven by competition, diffidence and glory. Bagi Hobbes, arti dari kata ‘men are equal’ adalah sebuah kondisi dimana yang terlemah mampu mengalahkan yang terkuat sekalipun, baik dengan intrik rahasia atau dengan konfederasi dengan yang lain. Hal tersebut kemudian berimbas kepada dua poin lainnya yang diusung oleh Hobbes. Dunia yang digambarkan oleh Hobbes kurang lebih merupakan dunia yang ada pada zamannya. Kengerian, kehancuran, perebutan kekuasaan, semua memiliki andil dalam pembentukan pemikiran realis Thomas Hobbes.

References

Burchill, S., Linklater, A., Davetak, R., Donelly, J., Paterson, M., Reus-smit, C., & True, J. (2005). Theories of International Relations – Third Edition. New York: Palgrave Macmillan.

Suhelmi, A. (2001). Pemikiran Politik Barat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »