Pemikiran Politik Islam: Abad Modern

Oleh: Al Dina Maulidya


Abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Islam mengalami kemunduran. Pada abad ini dunia Islam berada pada kendali para penjajah asal dunia Barat. Dunia Islam mulai mendapatkan gesekan dengan pemikiran dan gagasan dunia Barat. Politik dunia yang awalnya dikuasi oleh Islam selamat berabad-abad mulai dari Dinasti Umayyah di Damasus (661-750M), Bani Abbasiyah di Baghdad (750-1258M), bani Umayyah II di Spanyol (756-1031M), Dinasti Safawi di Persia (1501-1736M), Mughhal di India (1526-1858M), hingga kekhalifahan Turki Usmani (1300-1924M). Kebangkitan Eropa pasca kekalahan Turki usmani menambah rasa percaya diri dunia Barat. Mereka kemudian mampu menjajah berbagai belahan bumi.
Dr. Muhammad Iqbal berhasil memaparkan secara luas perkembangan pemikiran politik Islam di abad Modern yang terbagi menjadi tiga arus pemikiran. Kelompok pertama, mengembangkan pemikiran terkait kesempurnaan dan kemurnian ajaran Islam. Kelompok ini menolak keras pengaruh pemikiran barat. Para pemikirnya ialah Muhhamad Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Al-Maududi, dan Sayyid Quth. Mereka memandang Islam sebagai agama terbaik dan mengikuti barat adalah sebuah kesalahan. Mereka semua merindukan dan hanya menginginkan masa kekhilafahan Islam. Pendapat keras dilontarkan oleh Maududi, ia mengatakan jika sistem politik demokrasi merupakan sistem musyrik dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Kelompok kedua, mereka yang bergabung di sini mengupayakan pemisahan Islam dan politik. Urusan kedua hal tersebut sangat bertentangan sehingga harus dipisahkan. Tokoh yang masuk kelompok ini ialah Reza Pahlevi, Muhammad Kemal Ataturk, Thaha husein, dan Aki Abdurraziq. Reza dan Kemal merekonsiliasi nilai-nilai Islam ke dalam bentuk pemerintahan yang sekuler. Reza yang digulingkan di Iran tahun 1979 pernah memerintahkan pasukannya ke jalan-jalan untuk melarang wanita menggunakan jilbab. Kemal sendiri membangun Turki Modern yang jauh dari bersatunya peran Islam di dalam pemerintahannya. Sementara itu, Ali dan Thaha lebih banyak membiacrakan pemikiran mereka. Thaha menolak sistem Khilafah, ia menganjurkan adopsi mentah-mentah pemikiran politik Barat. Menurutnya, pemerintahan seperti Barat adalah bentuk pemerintahan yang ideal.
Kelompok ketiga, para pemikirnya berusaha untuk menyatukan pemikiran yang berbeda. Mereka menolak pemikiran Barat tetapi juga tidak menerima pemikiran Islam sepenuhnya. Tokoh-tokohnya antara lain, Sayyid Jamaluddian Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Mahmud Syaltut. Mereka menerima demokrasi dan sosialisme, namun di dalamnya tetap dikaitkan dengan nilai-nilai Islam. Mereka berusaha untuk merumuskan sistem pemerintahan Islam. Pada pemikirannya, mereka mengemukakan pentingnya musyawarah dan tidak menutup diri dari pemikiran yang berkembang jika memang tidak bertentangan dengan Islam.
Ketiganya kelompk yang ada memiliki pemikirannya sendiri. Mereka beragumentasi dan menghasilkan berbagai variasi perkemabngan pemikiran politik Islam di abad Modern.
SUMBER:
Ghafur, Muhammad F. 2010. Pemikiran Politik Islam dalam Perspektif Sejarah, pp. 151-154.
M. Iqbal & Amin Husein N. 2010.Pemikiran Politik Islam dari Masa klasik hingga Indonesia Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada Media Groub.
Mufti, Muslim. Politik Islam Sejarah dan Pemikiran. Bandung: CV Pustaka Setia, pp. 17-21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »