Ekonomi Politik Internasional : Pendekatan Marxisme

Oleh: Nadiya Suci Pratiwi

      Pendekatan marxisme merupakan bentuk kritik yang disampaikan oleh Karl Marx terhadap liberalisme ekonomi yang beranggapan bahwa liberalisme ekonomi bersifat positive-sum game (menguntungkan semua pihak). Namun, Karl Marx menggunakan pendapat dari merkantilisme mengenai zero-sum game dan berpandangan bahwa sebenarnya, perekonomian merupakan tempat terjadinya pengeksploitasian manusia dan terdapat perbedaan kelas di dalamnya.

      Kaum Marxis dan Merkantilis sepakat menolak pandangan kaum liberal dan memiliki pendapat yang sama, bahwa politik dan ekonomi saling berkaitan. Namun, terdapat perbedaan diantara keduanya. Merkantilisme melihat ekonomi sebagai alat politik, sedangkan Marxisme menjadikan ekonomi pada posisi pertama dan politik berada dibawahnya. Menurut kaum Marxis, terdapat 2 kelas sosial dalam perekonomian kapitalis, yaitu borjuis dan proletar. Dimana borjuis merupakan pemilik alat-alat produksi, sedangkan proletar hanya memiliki tenaga saja, dengan kata lain kaum proletar merupakan kaum pekerja atau buruh.

      Karl Marx percaya, bahwa lama-kelamaan jumlah pemilik modal akan terus bertambah sehingga menyebabkan tingkat kompetisi yang tinggi dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya krisis ekonomi di kemudian hari. Krisis ekonomi tersebut tidak hanya berhasil untuk memperluas jarak antara kaum borjuis dan proletar, tetapi dapat juga menjadi wadah sebagai tempat untuk menyaring para pemilik modal sehingga hanya akan menyisakan aktor-aktor yang memiliki ‘kekuatan’. Selain itu, untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, pemilik modal harus memanfaatkan buruh yang sudah dibayar secara maksimal, dan pada akhirnya hal ini menyebabkan terjadinya eksploitasi. Marxisme dikenal juga dengan ‘Materialisme’ karena berfokus pada produksi barang oleh manusia demi eksistensi sebagai aktivitas inti.

       Bagi studi EPI (Ekonomi Politik Internasional), kerangka kerja kaum Marxis meliputi beberapa hal. Pertama, negara bersifat tidak otonom. Hal ini berarti negara bergerak karena adanya dorongan dari kelas yang berkuasa yang memiliki kepentingan, bagi negara kapitalis, kelas yang berkuasa dan memiliki kepentingan tersebut adalah kaum borjuis. Marxisme juga menganggap bahwa perjuangan antar negara dan peperangan seharusnya berkaca pada persaingan ekonomi di antara negara-negara tersebut. Kedua, kapitalisme merupakan suatu sistem ekonomi yang sifatnya ekspansif, yakni selalu mencari peluang dengan terus-menerus membuka pasar baru yang lebih dalam hal memberikan keuntungan. Kelas dan konflik yang tidak terbatas pada negara-negara dan terus-menerus meluas dalam gelombang kapitalisme, memberikan pandangan bagi Marxisme, bahwa sejarah EPI merupakan sejarah tersebarnya kapitalisme ke seluruh dunia. 

Referensi

Bakry, U. S. (2015). Ekonomi Politik Internasional : Suatu Pengantar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2013). Pengantar Studi Hubungan Internasional : Teori dan Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »