Tradisionalis VS Saintifik dalam Ilmu Hubungan Internasional

Oleh : Yusril Ihza Mahendra

      Sebagai ilmu yang terbilang baru apa bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya seperti filsafat, politik, ataupun astronomi, Ilmu Hubungan Internasional (HI) terus mengalami perkembangan dan perubahan sampai saat ini. Perkembangan dalam Ilmu HI dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sistem internasional yang terus berkembang, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, budaya ataupun kemanan. Perubahan-perubahan tersebut juga memunculkan problematika dan isu-isu baru dalam HI yang belum pernah ada sebelumnya. Dinamika dalam perkembangan dunia internasional ini kemudian memunculkan perdebatan antara para ahli salah satunya adalah tentang bagaimana seharusnya mempelajari HI.

     Berbeda dengan beberapa perdebatan besar dalam ilmu HI, perdebatan anatara Tradisionalis vs Saintifik sejatinya bukan lah perdebatan antara teori melainkan tentang metodologi dalam ilmu HI. Pada awalnya, pendekatan Tradisionalis (wisdom outlook) berpendapat bahwasanya ilmu HI harus dipelajari melalui orientasi sejarah dan pengalaman langsung. Hal ini dianggap penting karena pengetahuan tentang sejarah merupakan fondasi penting dalam memahami isu-isu internasional yang terjadi pada saat ini. Sebagai contohnya, sejarah telah memberikan kita pengetahuan bahwa konflik antara Hamas dan Militer Israel merupakan bagian dari sengketa wilayah antara Bangsa Arab dan Yahudi, dimana perselisihan antara dua bangsa ini telah dimulai sejak zaman al-kitab dan akar permasalahan modernnya adalah ketika Negara Israel berdiri di tanah Palestina pada tahun 1948. Menurut Charles A. McClelland, pada waktu itu berkembang pendapat bahwa dalam mempelajari ilmu HI dibutuhkan kemampuan intelektual yang banyak sehingga hanya memungkinkan dilakukan oleh mahasiswa pasca sarjana yang betul-betul terlatih. Beberapa syarat yang ditekankan oleh para tradisionalis untuk memahami HI antara lain: Pertama, pemahaman yang mendalam tentang sejarah berbagai negara, serta pemahaman bahasa. Kedua, pengalaman langsung dengan menetap atau meneliti di negara-negara yang dipelajati. Ketiga, pengetahuan yang mendalam hanya bisa dapat diperoleh dalam suatu ruang lingkup yang terbatas.

      Pendekatan tradisionalis kemudian mendapatkan kritik dari pendekatan Saintifik yang merupakan bagian dari gerakan behavioralisme dalam ilmu sosial. Pada tahun 1950-an beberapa sarjan mulai menggunakan suatu pemahaman tentang sifat manusia dan sejarah untuk mengembangkan ilmu HI secara lebih saintifik. Mereka didasari pada asumsi bahwa manusia sebenarnya berperilaku dalam suatu pola yang dapat diprediksi. Tugas utama pendekatan saintifik adalah mengumpulkan data-data empiris tentang hubungan internasional yang kemudian dapat digunakan untuk menghitung, mengklasifikasikan, menggeneralisasikan, yang pada akhirnya akan membentuk hipotesis-hipotesis atau pola perilaku yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Kaum Saintifik lebih tertarik pada data-data yang dapat diamati dan diukur, dengan menggunakan data tersebut dalam suatu perhitungan yang tepat maka ilmuan dapat menemukan pola perilaku yang berulang (hukum-hukum) dalam hubungan internasional. Mereka juga berasumsi bahwa fakta-fakta terpisah dari nilai-nilai. Apabila fakta dapat dijelaskan secara ilmiah, maka tidak dengan nilai.

Daftar Pustaka

Jackson, R., & Sorensen, G. (2013). Pengantar Studi Hubungan Internasional – Teori dan Pendekatan. Yogyakarta: PUSTAKAPELAJAR.

Mas’oed, M. (1990). ILmu Hubungan Internasional – Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES.

Mingst, K. A., & Arreguin-Toft, I. M. (2017). Essentials of International Relations. New York . London: W.W. Norton & Company.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »