John Locke si Jenius dari Abad Pencerahan

Oleh: Jordan Aria Adibrata

      Halooo rek! Pada kesempatan ini, kita akan membahas tokoh pemikir politik barat, yakni John Locke! Tapi, sebelum itu kalian udah pada kenal sama bapaknya belum sih? Pasti kalian minimal udah ga asing sama nama ini lah ya, hehe. Dadi ngene gaes, John Locke memiliki beragam pemikiran mulai dari pemikiran tentang negara, pengetahuan, hingga sosiologi. Hal ini berdampak pada bidang pengetahuan dan akademis, serta hasil dari pemikirannya pun masih dipakai hingga sekarang. Wah menarik bukan? mari kita pelajari satu-satu. Skuuy!

  • Tentang Negara

      Berawal dari latar belakang kehidupannya, yakni tempat tinggalnya Inggris yang mengadopsi bentuk pemerintahan monarki absolut. John Locke hadir sebagai penentang dari monarki absolut di negaranya. Ia memiliki kritik bahwa masyarakat yang dapat membentuk sebuah civil society yang bertujuan sebagai gugatan terhadap institusi yang superior (dalam hal ini kerajaan Inggris) yang dalam prakteknya melakukan hal yang semena-mena terhadap rakyatnya.[1] Kritiknya dituangkan dalam buku yang berjudul Two Treatises of Government. Selain itu, dia juga mengembangkan konsep tentang pembatasan kekuasaan negara. Karena ia melihat bahwa selama ini raja memiliki wewenang dan kekuasaan yang tidak terbatas. Selain itu John Locke melakukan cara pemisahan kekuasaan dengan cara mengimplementasikan kedalam tiga lembaga yakni legislatif, eksekutif dan federatif yang dikenal sebagai “Trias Politica”.[2]

  • Tentang Pengetahuan

      Akal merupakan sumber pengetahuan utama bagi manusia karena sejatinya manusia adalah makhluk yang berakal. Anggapan tersebut merupakan ajaran rasionalisme yang dikemukakan oleh Rene Descartes, Spinoza, dan Leipniz.[3] Tetapi aliran ini mendapat kritikan keras dari John Locke bahwa akal bukanlah satu-satunya sumber utama pengetahuan, karena akal itu bersifat abstrak dan memiliki keterbatasan. Menurutnya, sumber pengetahuan adalah pengalaman dan kemampuan manusia untuk belajar tentang dunia melalui panca indera. Ia meyakini bahwa manusia itu sesungguhnya dilahirkan dengan keadaan kosong, dan berbagai ide yang ada dalam benak manusia adalah hasil dari perolehan pengalaman melalui panca indera.[4] Anggapan inilah yang melandasi teori Tabularasa yang dikembangkan oleh John Locke.

  • Tentang Sosiologi

      Secara terminologis sosiologi berarti ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kehidupan manusia sebagai makhluk bermasyarakat.[5] Salah satu pengembang dari ilmu ini adalah John Locke yang menggagas aliran positivisme. Positivisme memiliki argumen dasar bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu yang didasarkan pada fakta-fakta empirik dan terukur atau disebut sebagai ilmu positif.[6] Aliran positivisme ini mengilhami banyak tokoh dan pemikir sosiologi seperti Auguste Comte (bapak ilmu sosiologi).

Aliran ini dikembangkan menjadi tolok ukur untuk mengukur suatu kebenaran yang sesuai dengan kenyataan. Inilah yang dinamakan John Locke sebagai “kebenaran empirik” atau empirical science yang berpengaruh besar dalam perkembangan ilmu sosiologi. Empirisme telah ditetapkan sebagai salah satu standar kebenaran pengetahuan dan tidak terbatas pada ilmu sosiologi saja, melainkan ilmu lainnya juga. Karena itulah sosiologi tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang bersifat ghaib, tetapi selalu membicarakan tentang kenyataan-kenyataan yang ada dan terjadi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Atas dasar itulah sosiologi dibagi menjadi tiga paradigma yakni fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.[7]

  • Tentang Agama

      John Locke secara tegas memisahkan antara agama dan negara, agama merupakan wilayah privasi setiap individu dan tidak bisa diintervensi dan dicampuri oleh negara.[8] Hal ini mengilhami isi dan rancangan Konvenan Hak Sipil dan Politik oleh PBB pada tahun 1976.[9] Kebebasan beragama juga diinisasi oleh John Locke dalam suratnya yang berjudul “letter concerning toleration”. Dalam hal ini John Locke memaknai toleransi sebagai persamaan perlakuan di antara kelompok beragama. Dengan kata lain, toleransi mengandung makna memberikan kesempatan pada kelompok beragama untuk menjalankan peribadatannya. Non-diskriminasi, keragaman, dan toleransi merupakan elemen yang melekat dalam hak atas kebebasan beragama.

      Brilian banget ya ternyata bapaknya gaes. Dia tidak hanya mikirin tentang politik aja, tetapi juga berbagai hal yang lain. Master banget emang bapaknya ya! Hehe. Well, semoga ini dapat membantu kalian dalam mengetahui dan menambah pengetahuan kalian tentang pemikir politik barat. Ciao!


[1] Muhadjir Effendi, Masyarakat Equilibrium (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002) hal. 6.

[2] Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Tata Negara di Indonesia, (Dian Rakjat, Jakarta Timur, 1983) hal. 16.

[3] Agus Sholahuddin, 2010, Epistemologi Filsafat : Hand Out Kuliah program S3, Universitas

Merdeka Malang, hal.7.

[4] Juhari, Muatan Sosiologi dalam Pemikiran Filsafat John Locke. Jurnal Al-Bayan. Vol. 19, no. 27. Januari – Juni 2013.

[5] Ibid.

[6] Suhar AM, Filsafat Umum : Konsep, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2009) hal. 149.

[7] George Ritzer, Sociology : A Multiple Paradigm Science,terj. Alimandan, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta: Rajawali Press, 1992)

[8] Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat, Hak Atas Kebebasan Beragama / Berkeyakinan dalam Perspektif HAM: Teori dan Praktek (Dipresentasikan dalam Kursus HAM untuk Pengacara Angkatan XVII, Elsam, 28 November 2013) hal. 1.

[9] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »