Bumi dan Remaja

Oleh : Divisi External Relations

         Halo, Researchers! Kali ini IISAUC akan berbagi hal menarik untuk dibahas mengenai gerakan sosial dan isu lingkungan. Lebih kerucutnya lagi, bahasan yang akan dibahas mengenai generasi muda saat ini yang bersatu menuntut keadilan lingkungan dan bumi. Beberapa waktu yang lalu sedang viral seorang aktivis lingkungan yang masih belia namun telah memiliki pengaruh yang sangat luar biasa. Adalah Greta Thunberg, seorang gadis yang masih berusia 15 tahun dari Swedia.

         Greta adalah seorang siswi kelas sembilan yang pada Desember 2018 lalu didiagnosa mengidap Sindrom Asperger, mutisme selektif dan Obsessive Compulsive Disorder . Namun, gangguan yang diidapnya tidak mematahkan semangatnya untuk melakukan aksi protes mengenai ketidakpedulian Pemerintah Swedia terhadap krisis iklim. Berawal dari Greta memutuskan untuk tidak masuk sekolah sampai pemilihan umum Swedia  yang berlangsung pada 9 September 2018. Greta merasa fenomena yang terjadi pada 2018, yaitu gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia, tidak mendapat perhatian dari Pemerintah. Dia menutut kepada Pemerintah setempat untuk segera mengurangi emisi karbon dan mengikuti aturan dalam Perjanjian Paris 2015.

         Aksinya hanya sebatas tidak menghadiri sekolah setiap hari Jumat ditemani kertas bertuliskan Skolstrejk för klimatet (mogok sekolah untuk iklim). Namun, aksinya dapat mempengaruhi banyak siswa hingga ke manca negara. Greta juga mengampanyekan aksinya melalui media sosial dan tentu sangat efektif untuk menyebarluaskan pengaruhnya. Aksi protes tersebut menginspirasi jutaan pelajar di lebih dari 100 negara untuk melakukan hal serupa, yaitu mogok sekolah setiap hari Jumat dan melakukan aksi protes menuntut keadilan lingkungan. Aksi ini diberi nama Friday For Future dan memanfaatkan media sosial untuk menampanyekan aksi mereka dengan tagar #FridayForFuture.

         Hal menarik lainnya adalah aksi protes tersebut paling aktif dan masif diselenggarakan di negara-negara maju yang disebut-sebut sebagai penyumbang emisi karbon terbesar seperti Jerman, Belgia, Inggris, Perancis, Australia dan Jepang. 15 Maret 2019 lalu aksi Friday For Future dilakukan serentak di negara-negara tersebut, dimulai dari Australia. Remaja-remaja milenial tersebut meneriakkan ‘suara’ mereka kepada Pemerintah untuk berhenti mengacuhkan permasalahan lingkungan yang sudah bukan menjadi isu lagi, namun beralih menjadi krisis global.

         Skala dan cangkupan aksi yang sangat luas, tak sedikit pihak yang bergerak di bidang yang sama turut mendukung aksi Friday For Future, salah satunya Greenpeace . Melalui media sosialnya, Greenpeace juga mengunggah beberapa dokumentasi kegiatan aksi protes pelajar dengan menambahkan tagar baru #climatestrike. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya, menurut akun Instagram Friday For Future Indonesia, aksi Friday For Future di Indonesia 15 Maret lalu dibatalkan karena jumlah partisipannya yang sangat sedikit. Walaupun begitu masih ada pelajar-pelajar yang yang ikut berpartisipasi dalam aksi #climatestrike secara individu maupun kelompok kecil di Jakarta.

         Dari penjelasan ini, bisa dikatakan bahwa gerakan Friday For Future tersebut merupakan sebuah gerakan yang cukup berbeda dari gerakan-gerakan lainnya. Karena partisipannya merupakan remaja-remaja yang kebanyakan adalah pelajar sekolah. Mereka memanfaat hal kebebasan bersuara untuk berprotes kepada Pemerintah di masing-masing negara agar segera menghentikan produksi emisi karbon yang dapat mempengaruhi perubahan iklim dan mengancam masa depan.

         Gerakan tersebut dapat dikategorikan sebagai Global Civil Society. Pengaruh seorang Greta Thunberg berhasil menggerakkan remaja-remaja di berbagai belahan dunia untuk menyerukan dan memperjuangkan hal yang sama, yaitu perubahan dari Pemerintah. Bahkan sangat berpotensi untuk mempengaruhi sistem politik dan ekonomi di dunia apalagi Greta sudah sering diundang dibeberapa forum untuk menyampaikan pidatonya seperti TEDxStockholm pada 24 November 2018, KTT perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 4 Desember 2018, World Economic Forum di Davos pada 23 Januari 2019, dan konferensi Komite Ekonomi dan Sosial Eropa pada 21 Februari 2019.

         Remaja-remaja yang mengikuti protes tersebut merupakan sebuah gambaran bentuk kepedulian sekaligus keresahan generasi milenial terhadap masa depan anak cucu mereka yang dipengaruhi oleh keberlangsungan ekosistem di Bumi. Mereka sadar bahwa Pemerintah telah mengabaikan permasalahn lingkungan yang sebenarnya sudah sangat krusial dan harus segera dilakukan perubahan yang nyata. Greta mengatakan bahwa, kita sudah memiliki semua fakta dan solusi. Yang harus kita lakukan adalah untuk bangun dan berubah. Inilah kunci dari gerakan Friday For Future. Pemerintah dituntut untuk segera sadar dan segera berubah, tidak hanya rakyatnya saja yang peduli dengan lingkungan. Remaja-remaja tersebut juga sadar bahwa karena mereka masih muda, belum ‘dewasa’ dalam menyerukan suaranya kepada Pemerintah sendirian, maka menyerukan suara dengan jumlah yang banyak adalah solusinya. 

Daftar Pustaka

BBC. (2019, Maret 18). Greta Thunberg, remaja 16 tahun yang dinominasikan raih Nobel Perdamaian. Retrieved from BBC News Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47578903

Gessen, M. (2018, Oktober 2). The Fifteen-Year-Old Climate Activist Who Is Demanding a New Kind of Politics. Retrieved from The New Yorker: https://www.newyorker.com/news/our-columnists/the-fifteen-year-old-climate-activist-who-is-demanding-a-new-kind-of-politics

fridayforfuture.id. (2019)

Thunberg, G. (2018, Desember 13). You Are Stealing Our Future: Greta Thunberg, 15, Condemns the World’s Inaction on Climate Change. Retrieved from Democracy Now: https://www.democracynow.org/2018/12/13/you_are_stealing_our_future_greta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »