Tokoh-Tokoh Pemikir Realis

  1. Nicollo Machiavelli
    “Pada dasarnya semua manusia itu jahat. Jadi, jika kau yang mencari perdamaian, itu omong kosong, kau harus berperang”.

Nicollo Machiavelli-

Realisme merupakan perspektif yang memiliki asumsi dasar yang pesimis akan aktor-aktor dalam hubungan internasional. Kaum realis memandang mereka sebagai makhluk yang egois dimana mereka ingin selalu menang sendiri. Oleh karena itu, mereka akan menggunakan segala cara dalam rangka memenuhi semua kebutuhan ataupun kepentingannya. Asumsi ini juga berlaku pada negara dimana negara digambarkan sebagai gambaran dari sifat manusia yang egois akan kepentingannya oleh kaum realis. Selain itu, kaum realis juga memandang bahwa sistem internasional bersifat anarki, yaitu tidak ada ‘pemimpin’ dari seluruh negara di dunia. Hal ini dikarenakan semua negara berusaha untuk bertahan hidup dan tidak dapat mempercayai negara lain sepenuhnya. Oleh karena itu, perang tidak dapat dipungkiri untuk terjadi antar negara demi memenuhi kepentingan nasional mereka masing-masing. Itulah makna dari pernyataan Machiavelli di atas.

2. Thucydides

”Yang kuat melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang memiliki
kekuatan dan yang lemah menerima apa yang seharusnya mereka terima”. -Thucydides

Pemenuhan kepentingan pada akhirnya akan berhubungan dengan power. Power memiliki arti kekuatan atau kekuasaan dari negara tersebut. Semakin banyak kepentingan yang terpenuhi, maka akan semakin besar pula power yang dimiliki suatu negara. Power merupakan hal utama yang harus dimiliki oleh suatu negara. Dalam pandangan realis, semakin besar power yang dimiliki oleh suatu negara akan memengaruhi besarnya pengaruh dari negara tersebut terhadap negara lain, bahkan sistem internasional.

Power juga merupakan suatu hal yang dapat menjamin keamanan suatu negara. Kaum realis berasumsi bahwa semakin besar kekuatan suatu negara, maka akan semakin kecil kemungkinan negara lain untuk menyerang mereka. Karena itulah, Thucydides dalam kutipan di atas menyatakan bahwa yang kuat akan berkuasa akan atau daripada yang lemah

3. Hans Morgenthau

“laki-laki dan peremuan secara alamiah adalah binatang politik; mereka dilahirkan untuk mengejar kekuasaan dan memperoleh hasil dari kekuasaan” Hans Morgenthau

Animus dominandi adalah sebuah frasa yang diutarakan oleh Morgenthau yang memiliki arti manusia ‘haus’ akan kekuasaan. Keinginan terhadap kekuasaan tidak hanya menghasilkan pencarian keuntungan relatif. Tetapi juga mendorong usaha untuk menciptakan wilayah politik yang terjamin keamanannya dan dapat digunakan sebagai pertahanan bagi diri sendiri terhadap ancaman dari pihak lain. Hal ini lah yang menjadi aspek keamanan utama dalam animus dominandi, keberadaan wilayah politik yang didalamnya keamanan dapat diatur dan diperoleh, yaitu negara merdeka. Untuk menciptakan keamanan tanpa adanya negara adalah sesuatu yang mustahil.

4. Thomas Hobbes
Pandangan Hobbes dalam mempelajari Realisme dapat dipelajari dalam bukunya yang berjudul Leviathan. Realisme dalam pemikiran Hobbes memberi asumsi dasar soal sifat manusia itu sama dengan manusia lainnya yang memiliki keinginan untuk mendapatkan kekayaan, pengetahuan, kekuasaan, maupun kehormatan. Manusia itu bersifat anarkis dalam berinteraksi, sehingga sifat tersebut dapat ditarik ke dimensi yang luas yaitu negara. Dalam konteks HI, Hobbes memberi dua ide yakni; hubungan internasional berbeda dengan hubungan sosial. Perbedaan tersebut terletak pada kontrol negara. Hubungan internasional juga adalah konflik semua melawan semua dimana negara-negara ingin menjadi yang terdepan dalam hal kekuasaan atau legitimasi.

5. Edward Hallet Carr
Realisme yang dibahas oleh E.H Carr dalam karyanya yang berjudul The Twenty Years’ Crisis menjelaskan bahwa idealisme gagal dalam menjelaskan fenomena dan diganti oleh realisme. Carr menyatakan bahwa idealisme dapat disalahgunakan oleh kepentingan- kepentingan lain dari kekuatan negara-negara besar yang menginginkan status quo. Pemahaman yang dianggap kurang logis membuat realisme semakin menguat, karena kepentingan adalah prioritas negara.

Bibliography
Jackson, R., & Sorensen, G. (2014). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
JR., C. W., & Wittkopf, E. R. (n.d.). World Politics: Trend and Tranformation. New York: Martin’s
Press.
Vinsensio, D. (2016). Teori Hubungan Internasional ‘Perspektif – Perspektif Klasik’. Surabaya: Cakra
Studi Global Strategis (CGSG). Universitas Airlangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »