Konstruktivism

Oleh : Naufal Fikhri Khairi – Director of Academic Base Department (Term Argonauts)

Konstruktivisme adalah pendekatan teoritis (Paradigma) dalam Studi Hubungan Internasional yang populer pada tahun 1990an, setelah berakhirnya Perang Dingin. Seiring munculnya aktor-aktor non-negara, juga berkembangnya isu-isu internasional menjadi salah satu faktor dari diliriknya pendekatan ini. Ketidakmampuan neo-realis dan neo-liberalis<br>dalam menjelaskan isu-isu internasional yang berkembang menjadikan konstruktivis sebagai alternatif dalam penjelasan isu-isu tersebut. Neo-realis dan neo-liberal hanya dapat mengeksplorasi bagaimana kepentingan itu dapat terwujud, tapi tidak dapat menjelaskan bagaimana suatu kepetingan itu terbentuk.

Menurut Alexander Wendt, konstruktivisme adalah sebuah teori struktural yang didasarkan pada asumsi bahwa aktor digabung secara sosial. Asumsi dasar dari konstruktivis yaitu, ide (gagasan), norma, dan identitas, merupakan aspek non-materil yang dapat membentuk tindakan suatu aktor dalam hubungan internasional. Identitas adalah dasar dari interest (kepentingan), yang mana akan menentukan action (tindakan). Hal ini menjelaskan kepentingan negara terbentuk sesuai identitas negara tersebut, yangmana identitas itu sendiri dibentuk oleh aktor-aktor di dalam negara tersebut melalui ide, gagasan, dan norma yang ada. Konstruktivis tidak mengabaikan pengaruh dan peran kekuatan materil (Kapabilitas militer, ekonomi, dan sebagainya), namun beranggapan bahwa seperangkat ide yang tertuang dalam norma internasional turut menentukan bagaimana aktor-aktor bertindak di dunia internasional. Aktor negara maupun non-negara dianggap sebagai Agent dan dunia internasional sebagai Structure, kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya aktor itu sendirilah yang menciptakan tatanan dunia internasional melalui ide, gagasan, serta norma yang disepakati.

Konstruktivis mengedepankan makna dan interpretasi bersama sebagai kompenen analitis esensial dibalik tindakan para aktor. Hal ini dapat terlihat dari asumsi konstruktivis bahwa struktur non-materil dapat mempengaruhi cara berfikir aktor dalam menentukan tindakan apa yang bisa diambil dan tindakan apa saja yang tidak bisa diambil dalam mencapai mencapai suatu tujuan. Misalnya : negara A menganggap negara B sebagai sekutu, jadi tidak masalah membiarkannya melakukan produksi senjata, akan tetapi negara A menganggap negara C sebagai musuh, jadi melarang negara C dalam melakukan produksi senjata karena dianggap dapat mengancam negara A.

Daftar Pustaka

Dugis, V. (2016). Teori Hubungan Internasional; Perspektif-Perspektif Klasik. (V. Dugis,Ed.) (1st ed.). Surabaya: Cakra Studi Global Strategis.
Smith, M. (2005). Critical Theories of International Relations. Syllabus (3rd ed.). New York: Palgrave Macmillan.
James E Doughter and Robert JR (2001). Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Survey. (5th ed.). New York: Longman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »